Posts categorized into ide :

Satu Alasan Lagi Untuk Belajar Bahasa Asing

Written by Fikri Rasyid on March 4, 2011 filed under ide, Pendidikan and tagged with , , ,

Ada satu gagasan menarik yang diucapkan dosen saya saat saya menghadiri kuliah Second Language Acquisition:

Orang yang berbicara dua bahasa, memiliki dua sistem tata bahasa di benak mereka

Wow, ini menarik sekali. Hingga hari ini, saya mampu berbicara Bahasa Sunda (meskipun tidak fasih-fasih amat), Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Terkadang ada hal-hal tertentu yang saya rasa lebih enak disampaikan menggunakan satu bahasa dibandingkan menggunakan bahasa yang lain karena makna-nya lebih tersampaikan.

Hal ini membuat saya berpikir: apakah hal ini berarti bahasa mempengaruhi bagaimana manusia berpikir? Saya menanyakan hal ini pada dosen saya. Beliau berkata bahwa ada penelitian mengenai hal ini yang menjawab ya, bahasa memang mempengaruhi bagaimana manusia berpikir.

Yang lebih menarik lagi, beliau berkata hasil penelitian seorang dosen Pendidikan Bahasa Indonesia menunjukan bahwa orang yang berbicara Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris (Multilingualist) cenderung lebih teratur dalam berbahasa daripada orang yang hanya berbicara satu bahasa saja. Positive / negative transfers terjadi di benak mereka: sistem tata bahasa satu bahasa mempengaruhi bagaimana pembicara bahasa menggunakan bahasa lain. Sang pembicara dapat membandingkan keunggulan / kelemahan bahasa yang mereka gunakan.

Gagasan ini menghasilkan satu kesimpulan di benak saya. Ada satu lagi alasan untuk mempelajari bahasa asing: Untuk lebih mendalami bahasa ibu / bahasa yang sudah kamu kuasai.

Saat ini saya jadi merasa saya ingin belajar bahasa lain. Bahasa Perancis atau Arab, mungkin? Kedua bahasa itu terasa sangat eksotis untuk saya.

Ide-ide Mengenai Pendidikan

Written by Fikri Rasyid on February 12, 2011 filed under ide, Pendidikan and tagged with , ,

Pendidikan yang ideal itu yang bagaimana sih? Belakangan pertanyaan sederhana ini kerap hinggap dikepala saya dan membuat saya memikirkan beberapa ide yang saya rasa akan sangat baik jika diimplementasikan:

Buat material pembelajaran sesederhana mungkin. Ini bukan masalah tingkat intelejensia namun masalah clarity dan efektifitas. Saya (dan saya yakin banyak teman-teman saya) sering kali menjadi tidak bersemangat membaca materi pembelajaran karena cara menyampaikannya ribet. Sudah pernah baca Getting Real-nya 37signals? Boy, cara mereka menyampaikan ide disana sangat-sangat efisien. Jadi ingat ini:

Be clear first and clever second. If you have to throw one of those out, throw out clever.

Jason Fried – 37Signals

Dua guru dalam satu kelas. Satu guru utama yang menyampaikan materi, dan satu guru bekerja sebagai wing man: berkeliling merapikan absen, membantu menertibkan siswa, menyiapkan peralatan, membantu murid yang kecepatan belajarnya agak lambat, dll. Biaya pelaksanaan pembelajaran mungkin akan lebih tinggi, tapi saya rasa efesiensi pembelajaran akan jadi lebih tinggi juga. Ohya, muridpun akan menjadi relatif tidak aneh-aneh karena kemampuan mengawas guru menjadi lebih luas.

Memanfaatkan media sosial untuk tujuan pendidikan. Fakta: murid zaman sekarang hidup pada zaman dimana online adalah suatu hal yang sangat lumrah. Jadi daripada dibatasi waktu online-nya, lebih baik siapkan konten-konten pembelajaran di media sosial dan arahkan aktifitas online mereka kesana. Instead of blaming or beating it, join and drive it.

Alokasikan lebih banyak sumber daya untuk mengembangkan softskill. Sudah sering sekali orang mengatakan bahwa softskill sangat berpengaruh di dunia kerja / professional. Herannya, saya tidak merasa ada satu mata pelajaran pun yang mengajarkan softskill-softskill yang penting secara menyeluruh. Contoh: jika kemampuan bernegosiasi itu sangat penting, mengapa tidak ada subjek “bagaimana cara bernegosiasi yang menguntungkan semua pihak“? Saya rasa subjek seperti ini akan sangat bermanfaat sekali.

Pendekatan berbasis proyek / portofolio. Satu hal yang saya pelajari dari pekerjaan freelance saya adalah klien / employer tidak melihat berapa besar IP saya: Mereka melihat portofolio saya dan apa saja yang sudah pernah saya selesaikan sejauh ini. Mereka membuat keputusan untuk mempekerjakan saya berdasarkan kemampuan -bukan gelar- yang saya miliki dan ekspektasi apa yang saya bisa selesaikan berdasarkan informasi yang mereka miliki dari proyek-proyek yang saya selesaikan.

Contohkan apa yang diajarkan. Menceramahi siswa tidak lagi efisien, terutama ketika mereka telah mencapai fase menjelang dewasa. Mereka tidak butuh ceramah yang bisa dilakukan siapapun. Yang mereka butuhkan adalah contoh dan role model untuk ditiru. Alih-alih menceramahi siswa tentang pentingnya kedisiplinan, tunjukan kedisiplinan guru dan institusi kepada mereka. Alih-alih memberitahu murid untuk memiliki etos belajar yang baik, tunjukan kerasnya etos belajar anda pada mereka. Alih-alih nasehat klise mengenai betapa murid harus menjadi pintar, tunjukan betapa pintarnya kamu dan apa saja keuntungannya menjadi orang pintar. Tindakan berbicara lebih lantang dan lebih efisien dari kata-kata.

Guru harus melek digital. C’mon, sekarang saja sudah tahun 2011.

Untuk sekarang, itu saja ide-ide dari saya. Dikemudian hari mungkin ada ide lagi yang muncul dan akan saya tambahkan disini. Sekarang giliran kamu: Apa yang kamu lihat sebagai masa depan pendidikan? Bagaimana wujud pendidikan yang ideal menurut kamu?

Mari berbagi ide. Hal ini akan menjadi sangat menarik sekali.

P.S: Silahkan mengkritisi ide-ide saya, diskusi yang konstruktif itu mengasyikkan :)

The beautiful background image titled “English class” is courtesy of Jesse Gardner on Flickr.

Platform, Bukan “Sekedar” Produk

Written by Fikri Rasyid on February 6, 2011 filed under Analisa, Bisnis, ide and tagged with , , , , ,

Salah satu poin yang sangat menginspirasi di What Would Google Do karangan Jeff Jarvis adalah “membuat platform“.

Zaman sudah berubah. Alih-alih membuat produk, akan lebih menguntungkan untuk membuat platform dimana semua orang dapat berpartisipasi mengembangkan dan menambah fungsi kepada platform tersebut.

iPhone sukses besar menjadi salah smartphone terkemuka di industri smartphone: sistem operasi iOS mengizinkan app developer mengembangkan aplikasi mereka sendiri dan menjualnya kepada pengguna.

Facebook sukses besar menjadi salah satu situs paling besar di muka bumi: facebook mengizinkan third party developer mengembangkan aplikasi yang dapat diintegrasikan ke facebook (contoh: FarmVille, Mafia War) dan digunakan oleh para pengguna facebook.

WordPress sukses besar menjadi salah satu content management system paling populer dimuka bumi. Sistem-nya didesain sedemikian rupa agar web desainer dan web developer dapat dengan mudah berpartisipasi membuat plugin-plugin dan themes untuk mengembangkan fungsionalitas WordPress.

Platform didukung oleh partisipan dan penggunanya karena platform tersebut menjadi bagian dari hidup mereka, tempat dimana mereka berpartisipasi mengembangkan sesuatu.

Setiap kali kamu terpikirkan untuk membuat sesuatu, pikirkanlah bagaimana caranya agar apa yang kamu buat bisa menjadi platform yang membuat banyak orang mampu berpartisipasi, berkreasi dan mendapat manfaat “diatasnya”.

Zaman sudah berubah.

Menurut kamu?

*Ide tulisan ini muncul di minggu pagi di kamar selepas cycling ke Car Free Day Bandung, tengah terpikir beberapa ide untuk dieksekusi.

Background image titled “Singapore Development (sunrise)” is courtesy of Ming Xia.

Relevansi Kewarganegaraan

Written by Fikri Rasyid on February 3, 2011 filed under ide and tagged with , , , ,

Akhir-akhir ini sebuah pemikiran menyelinap masuk ke otak saya: Mengutip imagine-nya John Lennon, apa yang terjadi jika obsesi akan kepemilikan yang berlebihan dan batas kenegaraan tidak ada?

Coba pikirkan ini:

Katakanlah ada seseorang yang sangat rendah hati, tidak pamrih, tidak haus akan kekuasaan melainkan menggunakan kekuasaan tersebut untuk kebaikan orang banyak dan jelas-jelas jauh lebih baik dari semua “tokoh masyarakat” yang ada di Indonesia. Diperkirakan, orang tersebut akan membawa kemakmuran jika diberi kesempatan memimpin negara ini. Sayangnya, kewarganegaraan Indonesia merupakan syarat mutlak seseorang menjadi pemimpin dan orang tersebut bukan seorang WNI.

Kembali kepada gagasan awal di paragraf pertama, mari kita bayangkan bahwa “seseorang” ini tidak memiliki obsesi berlebihan atas kepemilikan dan keharusan bahwa negara tempat dia berasal harus lebih superior dari negara tempat dia -jika diperbolehkan- memimpin. Selama semuanya sejahtera dan berkecukupan, baginya itu sudah cukup.

Pertanyaannya: apa pendapatmu akan hal ini? Apakah fakta bahwa seseorang lahir di suatu tempat dari orang tua yang tidak seorangpun bisa memilih dari siapa dia akan lahir melebihi kompetensi seseorang dalam menyejahterakan masyarakat?

Silahkan berbagi pendapat kamu.

Yang Tidak Memuaskanmu

Written by Fikri Rasyid on December 3, 2010 filed under ide, Pengembangan Diri and tagged with , , ,

Seth Godin dalam video TED-nya mengenai Tribe mengatakan satu hal yang sangat menarik:

What are you upsetting? If you’re not upsetting anyone, you’ll not gonna fight the status quo

Seth Godin

Larry Page dan Sergey Brin membuat Google karena pada masanya (sekitar tahun 1997) tidak ada satu mesin pencari-pun yang memuaskan mereka. Steve Jobs mendirikan Apple karena IBM, pemimpin pasar komputer saat itu, tidak menggarap pasar Personal Computer yang diincar-nya. Richard Branson dan filosofinya dalam masuk ke berbagai macam industri, seperti dalam artikel yang ditulis di majalah marketeers november 2010, adalah “look for areas where people are not doing things well, thus we fill the gap.“.

Seringkali manusia tergerak untuk membuat sesuatu yang lebih baik ketika hal yang sudah ada tidak memuaskan mereka.

Seperti orang tua yang tumbuh dalam kesulitan yang tidak ingin anaknya tumbuh dalam kesulitan.

Pertanyaannya, apa yang sekarang tidak memuaskanmu?

Andaikan kita bisa buktikan

Written by Fikri Rasyid on October 13, 2010 filed under ide and tagged with , , ,

Semalam, saya ngobrol-ngobrol dengan beberapa teman hingga larut malam. Salah satu topik obrolan kita adalah betapa korupnya bangsa ini: dari gayus dan perpajakan, bea cukai, kualitas jalan yang jelek sehingga selalu rusak dan selalu ada orderan, dan lain-lain.

Saya jadi melamun. Bagaimana menyembuhkan “penyakit” ini dari masyarakat kita ya?

Kalau saya pikir-pikir, akar masalah dari korupsi bukan ada di hukum yang mudah diakali atau institusi hukum yang lemah. Korupsi lebih ke masalah budaya. Korupsi, dalam pandangan saya, setidaknya disebabkan oleh dua hal:

  1. Kecintaan berlebihan terhadap harta.
  2. Berfikir bahwa satu-satunya cara untuk mendapatkan harta adalah dengan cara yang tidak baik.

Untuk poin pertama: Harta itu bukan tujuan, melainkan dengan alat. Tidak ada yang salah dengan memiliki harta yang berlimpah. Kamu bisa menolong banyak orang kurang mampu (menyumbang sekolah, memberi beasiswa) jika kamu punya banyak harta. Yang jadi masalah adalah jika kita menjadikan uang sebagai tujuan: memper-Tuhan-kan uang. Berfikir kalau ada uang, segalanya jadi beres.

Untuk poin kedua, saya yakin tidak ada orang yang ingin menjadi bad guy dengan cara korupsi. Andaikan ada cara yang baik mendapatkan uang, mengapa harus menggunakan cara yang buruk? Sialnya, kebanyakan orang hampir tidak tahu caranya mendapatkan uang yang berkelimpahan / berkecukupan dengan cara yang baik.

Sekarang, coba pikir: andaikan semua orang tahu bahwa mereka bisa berkecukupan / berkelimpahan dengan cara yang baik dan tahu BAGAIMANA CARANYA mendapatkan penghasilan yang mencukupi segala kebutuhan mereka, serta memiliki tujuan yang jelas dalam hidup yang mana tujuan tersebut bukanlah “menumpuk uang sebanyak-banyaknya” melainkan hidup bahagia dan memberi manfaat untuk sesama, apakah budaya korupsi massal di negeri ini akan tetap ada?

Jika jawabannya “tidak”, ini bisa jadi hal yang cukup berharga untuk diperjuangkan.

Dream comes true. Damn it’s true

Written by Fikri Rasyid on September 14, 2010 filed under ide, Personal and tagged with , ,

Ketika saya masih SD, saya hobi sekali membaca novel dan manga. Beberapa diantaranya yang sangat menarik minat saya adalah cerita-cerita dengan plot sekolah berasrama seperti Harry Potter, Mallory Towers, Love Hina dan lain-lain. Efek sampingnya, saya jadi punya cita-cita untuk bersekolah di sekolah berasrama. Kalau perlu yang gedung sekolahnya punya lorong yang diapit kelas di kiri dan di kanan-nya seperti di manga-manga itu.

Saat saya lulus SD, saya SMP dan SMA di sekolah berasrama: Ma’had Al-Zaytun. Beberapa menyebutnya pesantren, tapi saya mengalami kejadiannya langsung ragu untuk menyebutnya pesantren :p

when i was a young boy

Liat seragamnya: Sailor. mirip di manga-manga gitu LOL

tahun terakhir saya tinggal di asrama ini: Al-Fajr. Lantai lima, kamar 512. Jangan harap ada lift. Pakai tangga. Lebih dari 10 kali dalam sehari.

Ketika saya SMP, saya nge-fans abis dengan Linkin Park selalu amazed dengan anak-anak Band. Parahnya saya tidak bisa main satu alat musik pun. Paling canggih juga kastanyet LOL

Saat saya SMA, saya sering mengisi acara di acara sekolah. Ngeband. Sampai sekarang pun masih, another passion of mine :)

Ada band di Pesantren. Gaya betul.

Ketika saya SMA dan terlibat organisasi pelajar (kalau di sekolah umum disebutnya OSIS, kalau di tempat saya disebutnya OPAZ – Organisasi Pelajar Al-Zaytun – kalau tidak salah), saya masuk Departemen Informasi di bawah divisi website. Lucunya, saya waktu itu tidak mengerti bahasa pemrograman sama sekali dan divisi kami tidak merilis satu halaman web-pun.

Saat saya lulus SMA dan sekarang berkuliah, saya mendapatkan penghasilan dari freelance front-end web development (xHTML / CSS) dan WordPress theme development.

Ketika awal-awal saya pulang ke Bandung dan kemudian gagal masuk FSRD ITB tahun 2007, saya tidak langsung melanjutkan pendidikan formal saya. Saya course web development selama 8 bulan dan bergabung ke jaringan MLM K-Link dimana Ibu saya yang pembicara produk nasional. Waktu itu tujuan saya satu: mandiri secara finansial secepatnya biar tidak usah minta duit lagi ke orang tua. Malu dong, fisik – mental sehat dan usia sudah diatas 17 tahun masa minta uang ke orang tua melulu. Kalau saya lahir di U.S. usia segitu saya harusnya sudah keluar dari rumah dan mulai hidup mandiri (CMIIW).

Sayangnya ternyata bisnis jaringan bukan passion saya. Ada sih penghasilan disana, hanya saya kurang enjoy dan penghasilan saya disana belum cukup untuk operasional sehari-hari. Kadang-kadang masih harus minta ke orang tua.

Tahun 2009, saya mulai nge-freelance front-end web development. Penghasilan mulai masuk dan saya enjoy sekali menjalaninya karena sesuai dengan karakter dan passion saya.  Mulai awal tahun 2010, saya tidak usah minta uang lagi ke orang tua saya untuk sekedar membayar bensin, beli buku (baik untuk kepentingan saya sendiri atau buku kuliah), makan siang, jalan-jalan dan belanja-belanja. Tinggal biaya semesteran saya yang masih diberi. Semoga semester depan saya bisa bayar sendiri kuliah saya (meskipun agak gimana-gitu juga karena jurusan ini yang sekarang saya masuki ini kehendak ibu saya. Haha)

Di WordCamp 2010, acara gathering WordPress enthusiast yang banyak di datangi freelancer. Yang paling kiri itu teman saya di divisi website dulu yang akhirnya bernasib sama dengan saya. Saya yang paling belakang. I know, terlihat merem. Saya memang tidak fotogenik -_-

Ketika awal masuk kuliah, saya ingin sekali punya netbook tapi ketika itu saya sama sekali tidak punya dana dan tidak terbayang bagaimana cara belinya. Awal semester kemarin, hasil freelance cukup buat beli Dell Inspiron mini yang akhirnya memberi saya peluang untuk belajar banyak hal baru seperti mulai menggunakan Ubuntu, dll.

Mobile coding partner. Powered by Ubuntu 10.4 & Windows 7 Starter

Ketika awal kuliah, saya pakai handphone oldschool Motorola yang-penting-ada-mp3-playernya. Padahal, waktu itu saya ingin sekali handphone dengan keypad QWERTY. Selang beberapa waktu, semakin kesini, saya semakin butuh handphone yang agak pintar sedikit untuk internetan, membalas email klien saat saya tidak terhubung dengan internet (mostly karena sedang ada di kampus) dan lain-lain. Akhir semester kemarin rekening hasil freelance saya jebol untuk BlackBerry Gemini.

Gemini putih senjata andalan agar gampang dikontak oleh klien via Email

Daftar saya-ingin-dan-lalu-tercapai ini bisa saja saya terus perpanjang, tapi tidak ada gunanya memberikan 1000 contoh kalau 5 contoh saja sudah cukup. Yang saya ingin katakan adalah, dream comes true. Okay, some dreams come true – dan saya ingin menunjukan contoh spesifik dan faktual dalam hidup saya bahwa hal tersebut benar adanya. Beberapa impian tercapai tepat waktu, beberapa impian datang terlambat dari “waktu yang diminta” dan beberapa impian tidak diberi namun diberi yang lebih baik dari yang saya impikan.

Beberapa orang mungkin akan menganggap saya mencoba menyombongkan apa yang saya capai, tapi percayalah menyombongkan pencapaian seuprit seperti ini adalah tindakan yang sangat bodoh. Yang saya ingin katakan adalah kalau kamu ingin sesuatu, kamu bisa mendapatkannya meskipun detik ini kamu tidak tahu bagaimana cara mencapainya.

Saya ingat betul setiap hal-yang-saya-inginkan-lalu-saya-dapatkan ini. Awalnya hanya sebersit perasaan ingin. Lalu saya tulis, bahkan saya buat daftar. Pada titik tertentu saya cari gambarnya lalu saya tempel di tempat yang saya terus lihat, namun kadang-kadang gambar mental di otak juga cukup. Setelah itu saya setengah putus asa karena saya tidak tahu bagaimana cara mendapatkannya, tapi saya tetap yakin saja. Setelah itu saya jalankan kehidupan saya, lakukan apa yang saya yakini betul. Setelah selang beberapa waktu (kadang mingguan, bulanan, atau bahkan tahunan) ketika tanpa sadar saya sudah lupa dengan apa yang saya inginkan itu, hal yang saya inginkan tersebut sekonyong-konyong menjadi kenyataan.

Poff!

Dream comes true.

Wow, kadang-kadang saya suka tidak percaya juga :D Tapi ada satu kutipan yang sangat menarik dari Steve Jobs berkenaan dengan hal ini:

Of course it was impossible to connect the dots looking forward when I was in college, but it was very, very clear looking backwards 10 years later. Again, you can’t connect the dots looking forward. You can only connect them looking backwards, so you have to trust that the dots will somehow connect in your future. You have to trust in something–your gut, destiny, life, karma, whatever–because believing that the dots will connect down the road will give you the confidence to follow your heart, even when it leads you off the well-worn path, and that will make all the difference.

Steve Jobs, Commencement Speech at Stanford, 2005

Saat ini saya punya banyak cita-cita yang untuk sebagian orang mungkin terdengar bodoh atau mustahil seperti Ph.D sebelum usia 35, menciptakan web app selevel facebook & twitter, mapan secara finansial (yang saya asumsikan dengan penghasilan minimal diatas 10jt sebulan dangan biaya hidup seperti sekarang) saat lulus sarjana, buat sekolah, naik haji sebelum 30, mencoba naik unta di padang pasir timur tengah (penasaran seperti apa sih zaman Rasul itu), dan masih banyak lagi.

Jujur saja, saya belum kepikiran bagaimaimana caranya mencapai itu semua.

Tapi apa salahnya bermimpi? Apa salahnya bercita-cita? Mungkin, tidak semua cita-cita tersebut akan tercapai. Mungkin akan ada yang meleset dan tercapainya telat. Tapi kalau ada peluang tidak tercapai, berarti ada juga peluang untuk tercapai.

Beberapa dari kamu menganggap memiliki cita-cita itu muluk-muluk, tapi buat saya, it’s a part of the journey named life :D

Jadi, apa cita-cita kamu? Apa cita-citamu yang sudah tercapai??

Tentang Pendidikan dan Web: Pengoptimalan Web Untuk Memajukan Pendidikan

Written by Fikri Rasyid on December 11, 2009 filed under ide, internet, Pendidikan and tagged with , , , , ,

onelaptopperchild-actual

Ada dua hal yang memiliki tempat khusus di alam pemikiran saya: pendidikan dan web.

Apa pentingnya pendidikan?

Mengapa saya senang memikirkan pendidikan secara khusus? Karena sejak usia sepuluh tahun saya semenjak saya memasuki sekolah menengah, saya sudah dijejali dengan ide betapa pentingnya pendidikan oleh sekolah menengah saya yang berslogankan “pusat pendidikan dan pengembangan budaya perdamaian“. Terlebih lagi, kedua orang tua saya merupakan dosen di institusi yang menghasilkan pendidik se-indonesia dan saya pun mengambil jurusan pendidikan (tepatnya, pendidikan Bahasa Inggris). Well, lengkaplah sudah.
Read More

Seperti Apa Rumah Idaman Anda?

Written by Fikri Rasyid on July 17, 2009 filed under ide, Personal and tagged with , , , , ,

Imagination is more important than knowledge
-Albert Einstein-

The world is but a canvas to the imagination by adrysmomma04

"The world is but a canvas to the imagination" by adrysmomma04

Saya selalu senang berimajinasi. Semua hal tercapai karena ada pemikiran yang mengawalinya. Yap, kalau memimpikannya saja tidak dilakukan, apalagi menjadikannya nyata. Iya kan? ;)

Topik yang sekarang ingin saya angkat, berkaitan dengan kontes blog yang diselenggarakan oleh propertykita.com. Pertanyaan sederhana namun penting dan pasti terlintas di kepala semua manusia dewasa: Rumah seperti apa sih yang anda idamkan?

Read More