Posts categorized into Bisnis :

Dijual: iPad 2 Berusia 4 Bulan

Written by Fikri Rasyid on February 2, 2012 filed under Promotional Post and tagged with ,

 

the iPad 2

It’s time to say goodbye: saya menjual iPad 2 yang saya beli September 2011 lalu. Alasannya? Untuk saat ini saya membutuhkan device dengan layar yang lebih kecil dan device tersebut akhirnya dirilis di Indonesia. Untuk saat ini memiliki dua iOS device tidak akan efisien untuk saya.

Jadi, saya mencari calon pembeli untuk iPad 2 saya. Spesifikasinya: iPad 2 3G Black 16 GB.  iPad 2 ini saya tawarkan seharga 5,5juta rupiah. Kondisinya masih sangat baik, belum pernah saya jailbreak dan terinstall OS versi terbaru (5.0.1). Segala macam perlengkapan masih ada, garansi seharusnya masih ada 7 bulan lagi. Kuitansi pembelian masih ada (Saya beli di EMAX BIP september 2011 lalu).

Lokasi saya di Bandung, dan saya memprioritaskan pembeli di Bandung. Metode pembelian yang saya pilih Cash On Delivery (boleh transfer). Tidak menerima kredit, harus full payment langsung ;)

Jika kamu serius berminat untuk membeli, silahkan kontak saya melalui twitter @fikrirasyid atau email saya di fikrirasyid [at] gmail [dot] com dan kita bisa segera bertemu untuk bertransaksi (note: iPad 2-nya tentu akan saya reset setting & content-nya terlebih dahulu ke kondisi awal). Saya tunggu kabarnya :)

De, semoga kamu berpindah ke tangan yang baik yah *ngomong sama tablet* *puk puk iPad*

Platform, Bukan “Sekedar” Produk

Written by Fikri Rasyid on February 6, 2011 filed under Analisa, Bisnis, ide and tagged with , , , , ,

Salah satu poin yang sangat menginspirasi di What Would Google Do karangan Jeff Jarvis adalah “membuat platform“.

Zaman sudah berubah. Alih-alih membuat produk, akan lebih menguntungkan untuk membuat platform dimana semua orang dapat berpartisipasi mengembangkan dan menambah fungsi kepada platform tersebut.

iPhone sukses besar menjadi salah smartphone terkemuka di industri smartphone: sistem operasi iOS mengizinkan app developer mengembangkan aplikasi mereka sendiri dan menjualnya kepada pengguna.

Facebook sukses besar menjadi salah satu situs paling besar di muka bumi: facebook mengizinkan third party developer mengembangkan aplikasi yang dapat diintegrasikan ke facebook (contoh: FarmVille, Mafia War) dan digunakan oleh para pengguna facebook.

WordPress sukses besar menjadi salah satu content management system paling populer dimuka bumi. Sistem-nya didesain sedemikian rupa agar web desainer dan web developer dapat dengan mudah berpartisipasi membuat plugin-plugin dan themes untuk mengembangkan fungsionalitas WordPress.

Platform didukung oleh partisipan dan penggunanya karena platform tersebut menjadi bagian dari hidup mereka, tempat dimana mereka berpartisipasi mengembangkan sesuatu.

Setiap kali kamu terpikirkan untuk membuat sesuatu, pikirkanlah bagaimana caranya agar apa yang kamu buat bisa menjadi platform yang membuat banyak orang mampu berpartisipasi, berkreasi dan mendapat manfaat “diatasnya”.

Zaman sudah berubah.

Menurut kamu?

*Ide tulisan ini muncul di minggu pagi di kamar selepas cycling ke Car Free Day Bandung, tengah terpikir beberapa ide untuk dieksekusi.

Background image titled “Singapore Development (sunrise)” is courtesy of Ming Xia.

The Apple Effect

Written by Fikri Rasyid on January 31, 2011 filed under Bisnis, Entrepreneurship, Pengembangan Diri and tagged with , , ,

If you are awesome enough, you don’t need to chase the money. Instead, the money will chase you. Stop focusing yourself on chasing money and focusing yourself on being awesome instead.

Me

Hari sabtu minggu kemarin saya mengikuti acara WordCampID (acara kumpul-kumpul penggemar dan pengembang WordPress Indonesia) yang diselenggarakan di hotel Bumi Sangkuriang. Selain WordPress yang menjadi topik bahasan di stage dan di acara networking, ada satu hal lain yang terasa sekali disana: MacBook bertebaran di meja-meja.

Ini di satu meja saja ada 4 macbook white. Kalikan 20-an meja.

Sore hari ketika acara selesai, Bei, seorang teman bertanya kepada saya:

Ki, memang enaknya pake Mac apa sih?

Saya agak bingung menjelaskannya. Ada banyak sekali hal yang membuat saya menyukai Mac. “Pokoknya enak banget deh“. Teman-teman semeja yang juga penggunakan Mac (@bepitulaz, Syarif Yunus & Fajar) mengiyakan kalimat saya. “Susah mau ceritanya, tapi pokoknya enak BANGET deh“.

Selama lima belas menit kemudian, saya dan tiga kawan tadi sibuk bercerita -menjurus ke arah meyakinkan bak sales, sih- bagaimana enaknya menggunakan Mac pada Bei.

Ditengah-tengah obrolan kita itu, saya jadi teringat seorang klien yang dulu juga dengan semangatnya bercerita kepada saya betapa enaknya dan apa saja keuntungan menggunakan Mac (saat waktu itu saya belum menggunakan Mac). Heck, saya jadi menyadari, apa semua pengguna Mac (yang mana kebanyakan terpuaskan) pada akhirnya berubah menjadi evangelist Mac seperti saya, tiga teman saya dan klien saya lakukan? Ketika seorang pelanggan sangat terpuaskan terhadap suatu produk, secara otomatis mereka menceritakan pengalaman menyenangkan -menjurus meyakinkan- temannya atas kekerenan suatu produk. Gila-nya, pelanggan tidak dibayar untuk menceritakan produk tersebut. Mereka melakukannya dengan suka rela, bahkan dengan suka hati, dengan semangat 45.

If you are awesome enough, you don’t need to chase the money. Instead, the money will chase you. Stop focusing yourself on chasing money and focusing yourself on being awesome instead.

Me

Makan malam dengan The Marketeers: membicarakan Netizen

Written by Fikri Rasyid on October 25, 2010 filed under Bisnis, Event and tagged with , , , , ,

Saya beruntung, kamis malam kemarin The Marketeers Club mengundang saya untuk menghadiri dinner dan seminar mengenai “Netizen” yang diselenggarakan di Hotel Hilton Bandung yang di-host langsung oleh Hermawan Kartajaya. Konsepnya sama dengan Power Lunch yang membahas subkultur dalam new wave Maret lalu. Perbedaannya, yang sekarang lebih fokus membahas mengenai Netizen.

Garis besarnya

Berdasarkan konsep New Wave marketing yang disusun oleh MarkPlus, ada tiga subkultur yang harus dirangkul jika seorang marketer ingin mendominasi pasar:

  1. Youth: karena anak muda mudah menerima perubahan, rangkul mereka jika ingin merubah paradigma konsumen
  2. Woman: karena wanita tidak berbelanja untuk dirinya saja, rangkul mereka jika ingin memenangkan market share
  3. Netizen: karena netizen (masyarakat yang aktif berinternet) menyuarakan pendapat mereka dengan bebas, rangkul mereka jika ingin memenangkan “heart” atau disukai konsumen.

Seminar kamis malam kemarin lebih difokuskan untuk membahas mengenai netizen, berdasarkan survey yang diselenggarakan oleh MarkPlus di delapan kota besar di Indonesia. Dengan luwes dan sangat mudah dimengerti Hermawan Kartajaya memaparkan mengenai Why – What – How mengenai Netizen dan bagaimana marketer dapat “merangkul” mereka.

Hal baru yang saya pelajari

Cukup banyak hal baru yang saya pelajari dari pemaparan Hermawan Kartajaya, banyak hal menarik yang saya langsung livetweet via akun saya di twitter dengan hashtag marketeers. Jika anda belum memfollow akun twitter saya, berikut ini beberapa poin-poin menarik dari acara malam kemarin:

  • Netizen ini memang aneh, mereka g pake otak, tp pake hati. Di internet,org bicara pk hati
  • Legacy marketing = otak orang di brainwash lewat iklan2 vertikal
  • Netizen ini menganggap diri mereka setara dgn brand. Peduli amat brand gede apa kecil,kalo g suka y g suka. Bilang2 org pula
  • Every netizen thinks that he / she is the media. Ranah publik dan privat campur aduk
  • Citizen ini jangankan dikasih manual, diterangin aja kaga ngerti
  • Facebook itu lebih ke friendship. Twitter itu lebih ke leadership
  • Negara paling hot untuk mobile web itu Indonesia. India mah lewat (untuk poin ini, @pandutruhandito sempat menanyakan dasar statementnya)
  • di twitter lbh banyak social economy ses A daripada C sedangkan di twitter ses A, B dan C jumlahnya sama
  • GDP indonesia skg USD 3000. Gaya hidup berubah. Nanti saat perkapita 5000 n 10,000 berubah lg. Peluang baru muncul
  • Hasil research markplus: Gila. Orang rela g makan buat connect. Makan ngga makan yang penting connect.
  • I connect through mobile (87%) notebook (31.7%) PC home (23.7%) sisanya warnet

Jika dirangkum, intinya adalah:

  • Jumlah netizen semakin lama meningkat.
  • Mobile web adalah masa depan.
  • Orang yang “menggunakan internet” bukan hanya geek lagi. Politisi, selebritis, hingga para “ahli” yang sebelumnya belum diketahui publik dan memiliki pengaruh kepada pengikutnya kini bermasyarakat via internet
  • Netizen itu inklusif: mereka tidak perduli usia, gender, agama, kebangsaan dan apapun itu. Entah brand anda brand besar atau kecil, kalau netizen menganggap layanan / produk anda sucks, mereka akan berkoar-koar (sangat betul. lihat tulisan saya ini sebagai contoh).
  • Karena tidak adanya interaksi tatap muka secara langsung, netizen lebih jujur, terbuka dan “emosional” dalam mensuarakan pendapatnya. Mereka dengan mudah menyuarakan komentar mereka dan dibaca oleh ratusan bahkan ribuan atau ratus ribuan “pengikut”-nya secara real time. Camkan bahwa pendapat jelek lebih mudah tersebar daripada pendapat baik.

Diluar kesimpulan-kesimpulan diatas, ada satu hal yang saya anggap paling menarik dari acara malam itu: taksonomi pengguna internet berdasarkan hasil research MarkPlus dan bagaimana “merangkul mereka”. Sederhananya, pengguna internet dibagi kedalam sembilan kategori berdasarkan dua parameter yaitu keaktifan (pasif, rata-rata dan aktif) serta psikografis (penyebar berita negatif, moderat dan penyebar berita positif) sehingga menghasilkan taksonomi seperti ini:

  1. NetAvoider (4.4% – pengguna pasif yang negatif)
  2. NetCrawler (4.6% – pengguna pasif yang moderat)
  3. NetRookie (5% – pengguna pasif yang positif)
  4. NetStriver (31.3% – pengguna rata-rata yang negatif)
  5. NetWorker (26.4% – pengguna rata-rata yang moderat)
  6. NetJunkie (24% – pengguna rata-rata yang positif)
  7. NetTerrorist (2.1% – pengguna aktif yang negatif)
  8. NetPublisher (1.3% – pengguna aktif yang moderat)
  9. NetAdvocate (1% – pengguna aktif yang positif)

Kesembilan taksonomi ini berguna dalam menentukan cara anda menyebarkan pesan:

  • “Broadcast” untuk pengguna pasif
  • “Befriend” untuk pengguna moderat
  • “Engage” untuk pengguna aktif

dan bagaimana anda berinteraksi dengan mereka:

  • “Avoid” untuk pengguna negatif
  • “Join” untuk pengguna moderat
  • “Collaborate” untuk pengguna positif

untuk lebih jelasnya, gambar ini mungkin membantu:

Jika anda marketer, taksonomi ini sangat membantu untuk “memetakan” netizen mana yang harus “didekati” kan? Dekati mereka yang positif – aktif dan hindari mereka yang negatif – pasif. Great work.

Beberapa yang dapat ditingkatkan

Diluar informasi-informasi menarik yang “dibuka” kamis malam kemarin, ada beberapa hal yang menurut saya bisa ditingkatkan lagi. Well, timbal balik ini sebagai bentuk terima kasih saya kepada The Marketeers yang sudah mengundang saya dan jawaban untuk @cendrahadi pihak MarkPlus Jakarta yang berkorespondensi dengan saya via twitter dan bertanya “gmn acaranya td?“:

Perlu digaris bawahi bahwa pendapat atau masukan saya ini mungkin tidak mewakili mayoritas pendapat netizen, ini gagasan dan pendapat saya pribadi saja.

Siapa saja sih yang datang?

Ini salah satu bad habit saya saja sih (dan beberapa netizen mungkin): saya hanya bergerak jika ada tujuan yang jelas. Kalau tidak ada tujuan ya nikmati suasana saja, jadi bertukar kartunama secara massal bukan cara berpikir saya. Persis ketika browsing, cari yang saya mau di Google dan voila! Jadi agar sesi networkingnya lebih enak, mungkin enak ya kalau dibuat semacam wall berisi avatar, nama dan short bio dari orang-orang yang datang. Kalau ada yang menarik minat, tinggal “kejar” orang tersebut.

Goodie bag

Pernah ada yang bilang di twitter seperti ini: “Politisi diikat dengan uang, blogger diikat dengan goodie bag“. Jadi kalau buat acara yang mengundang blogger, berilah mereka goodie bag agar ingat terhadap acara tersebut. Di acara semalam peserta diberi goodie berupa majalah marketeers edisi terbaru sih, tapi tidak ada bag-nya, jadi goodie doang. LOL

Hanya satu arah

Ada satu hal yang membedakan acara dinner seminar malam itu dengan Power Lunch yang juga dipimpin oleh Hermawan Kartajaya maret lalu: Di acara kamis malam kemarin, hanya terjadi komunikasi satu arah: peserta datang, duduk, dan “diceramahi” oleh Hermawan. Loh, katanya New Wave, kok satu arah sih?

Livetweet!

Ada satu hal yang menjadi budaya kontemporer masyarakat urban di event-event menarik: livetweet! Untuk membuat suasana acaranya lebih “New Wave”, mungkin bisa pasang beberapa giant screen yang menampilkan tweet terbaru mengenai acara tersebut (supaya lebih oke, idealnya acara tersebut membuat hashtag tersendiri. Contoh: #MarketeersBDG or whatsoever). Lebih oke lagi kalau ada sejenis banner yang memberitahu netizen yang datang kalau ini loh, hashtag resmi kita.

Omong-omong, menampilkan livetweet seperti ini pernah dilakukan di screen acara forum anak web bandung (FOWAB) yang ke dua apa yang ketiga saya lupa. Dan efeknya keren sekali, acara FOWAB jadi makin terasa “live” :D

Download slidenya dimana?

Ohya, ini juga penting: dimana saya bisa mendownload slidenya? Lebih bagus lagi jika slidenya dibagikan dan dibuat embedd-able via slideshare ;)

Lima itu saja dulu sih, kalau ada poin tambahan akan saya update dan tambahkan.

Satu hal lagi..

Di akhir sesi kemarin, saya ternyata diajak maju kedepan dan diganjar semacam award untuk netizen Bandung yang “perlu diawasi” karena bisa dikategorikan kedalam netizen Bandung yang aktif dan positif. Waw, terima kasih sekali untuk penghargaannya, it’s an honor for me :)

Daaan, untuk pihak The Marketeers, ditunggu sekali foto-foto saat acara kemarin ya ;)

Saya ingin dan harus jadi orang kaya

Written by Fikri Rasyid on September 18, 2010 filed under Bisnis and tagged with , , ,

Sebelum saya melanjutkan tulisan ini, saya ingin mengerucutkan pemahaman dulu: biasanya saat saya bilang “kaya”, yang saya maksudkan biasanya adalah “kaya” secara keseluruhan: kaya waktu, kaya kebaikan, kaya teman, kaya ilmu, kaya harga, dan lain-lain. Tapi khusus untuk tulisan ini, saya fokuskan ke “kaya harta” dulu.

Begini: yang penting dari menjadi orang kaya adalah bukan jumlah uang di rekening, tapi “kemampuan mengelola dan menghasilkan uang”-nya

Kalau saya kaya, saya tahu CARA-NYA jadi orang kaya. Kalau saya tahu CARA-NYA jadi orang kaya, saya bisa ajarkan CARA-NYA menjadi orang kaya kepada orang lain. Kalau banyak yang jadi kaya, dan semua orang kaya tersebut mengajarkan kepada orang lain juga bagaimana CARA-NYA menjadi orang kaya dan jumlah orang kaya meningkat, yang akan terjadi adalah:

Tingkat kesejahteraan masyarakat naik.

Makin banyak orang yang sejahtera berefek makin banyak orang yang terdidik (karena asumsi saya mana ada orang kaya yang membiarkan anaknya / keluarganya tidak terdidik?). Yang dihasilkan oleh semakin banyak orang yang terdidik adalah masyarakat semakin berbudaya, semakin terinformasi, semakin cerdas memilih, semakin rukun (karena asumsi saya, hanya orang yang “lapar” yang bersemangat dengan konflik), dan lain-lain yang ujungnya adalah tempat yang kita tinggali sekarang ini bisa menjadi tempat yang lebih baik.

Implikasi jangka panjangnya:

  • Semakin berbudaya = semakin damai
  • Semakin terinformasi = tidak mudah dipecah belah seperti sekarang
  • Semakin cerdas memilih = tidak akan memilih moron untuk memimpin dan membuat kebijakan seperti.. ah-kamu-tahu-maksud-saya
  • Semakin rukun = tidak ada kekerasan yang tidak perlu seperti saat ini

Sounds awesome, huh? Tentu saja menjadikan tempat yang kita tinggali tidak melibatkan aspek ekonomi saja. Jadi salah besar kalau apa yang saya yakini ini adalah satu-satunya cara untuk menjadikan tempat yang kita tinggali sekarang ini lebih baik. Hell no, salah besar. Ada banyak aspek yang terlibat, dan yang saya pikirkan dan yakini ini hanya salah satunya saja.

Ada yang meyakini bahwa turun ke jalan dan berdemonstrasi adalah solusi untuk bangsa ini.
Ada yang meyakini bahwa mengabdikan diri untuk mendidik siswa adalah solusi untuk negara ini.
Ada yang meyakini bahwa menjadi atlet dan mengharumkan nama negara adalah solusi untuk krisis kepercayaan kita.

Semuanya berjalan paralel dan beriringan. Setiap orang memiliki perannya masing-masing. Dan jika ditanya apa yang saya yakini untuk negeri ini:

Tingkatkan kesejahteraan. Caranya selamatkan kesejahteraan diri sendiri sebelum berkoar-koar kesejahteraan bersama. Setelah diri sendiri sejahtera, bantu orang lain menjadi sejahtera.

Itu saja. Simple, praktis dan aplikatif.

Lalu kalau ditanya, sudah sekaya apa sih saya sampai ngomong seperti ini? Jawabannya ya saya belum kaya. Ini masih di perjalanan menuju kaya, sejahtera dan berkelimpahan. Cara spesifiknya mejadi kaya bagaimana? Ya mana saya tahu, orang jadi kaya saja saya belum LOL Sekarang saya masih jadi freelance, masih kuadran S. Baru sampai kepada tahap kerja-dibayar-habis dan menghidupi kebutuhan sehari. Ya itu yang saya bahas tadi, i’m saving my own ass right now. Dalam beberapa pekan kedepan, jika program yang saya dan teman-teman ajukan lolos seleksi Program Wirausaha Mahasiswa yang diselenggarakan pemerintah dengan perpanjangan tangan kampus dan dikucurkan dananya, saya rasa saya mulai menaiki tangga ke kuadran pemilik bisnis.

Sekarang mah yakini saja dulu, dan hantam saja semua yang nongol di hadapan mata. Ngga usah banyak mikir yang penting banyak usaha. Pikirkan yang penting-penting saja. Fase banyak berpikir akan muncul ketika usaha yang dikeluarkan sudah cukup banyak.Titik – titik yang saya lihat belum berbentuk menjadi garis, tapi suatu saat ketika saya lihat kebelakang titik-titik itu pasti menyusun garis yang bisa saya pahami.

Ya, itu dulu deh. Ada kritik, saran dan masukan? mari berdiskusi di kolom komentar :)

Akar Semua Pohon Uang

Written by Fikri Rasyid on April 18, 2010 filed under Bisnis, Pengembangan Diri and tagged with , , ,

Money

image is courtesy of aresauburn

Uang merupakan salah satu hal paling krusial yang sering dinafikan perannya. Uang memang bukan hal paling penting, namun hampir semua hal yang penting membutuhkan uang dalam pengimplementasiannya.

Mereka yang memiliki kemapuan finansial mumpuni memiliki keleluasaan lebih dalam menentukan pilihan-pilihan hidupnya. Lucunya, tidak satu jam pun dari pendidikan formal modern yang mendidik kita untuk memiliki kemampuan finansial yang mumpuni. Tidak heran jika keadaan ekonomi kita carut – marut.

Read More

Ulasan MarkPlus PowerLunch dengan Hermawan Kartajaya: Youth, Women & Netizen

Written by Fikri Rasyid on March 25, 2010 filed under Bisnis, internet, Review and tagged with , , , , , , , , ,

New Wave Marketing Discussion with Hermawan Kartajaya

Kemarin saya berkesempatan menghadiri MarkPlus PowerLunch dan diskusi mengenai New Wave Marketing yang dimoderasi oleh Pak Hermawan Kartajaya dan dihadiri oleh undangan terbatas (by invitation only) dari kalangan pengusaha kota bandung, musisi, kalangan muda, kalangan wanita, dan blogger – blogger yang ternama / terpilih beruntung. Beberapa waktu lalu juga saya membaca ulasan Ilman Akbar mengenai acara MarkPlus PowerLunch di Jakarta dan bertanya-tanya kapan acara serupa diadakan di Bandung. Beberapa pekan setelah membaca tulisan tersebut, ternyata saya di invite untuk hadir di acara serupa yang diselenggarakan di Bandung. Well, sounds like dream comes true, isn’t it? ;)

Wah, hampir saja terlupa: terima kasih untuk Setyagus Sucipto yang sudah merekomendasikan saya sehingga saya dapat hadir di acara ini :D . Hoho, ingat tulisan saya mengenai rekomendasi?

Read More

Tentang Salah Satu Rahasia Kemakmuran: Kekuatan Relasi

Written by Fikri Rasyid on August 20, 2009 filed under Analisa, Bisnis, Pengembangan Diri and tagged with , , , ,

 Hold the line from AnyaLogic

Hold the line from AnyaLogic

Beberapa hari yang lalu, saya dan beberapa kawan lama saya bertemu di acara pernikahan teman SD kami. lama tak bertemu, kami pun berbincang-bincang. Hal yang menarik dari perbincangan tersebut adalah, ada satu poin dari perbincangan tersebut yang menginspirasi saya. Mengenai rahasia kemakmuran.

“Ah, saya mah ingin punya banyak sahabat dekat di kampus ini uy” – ujar teman saya

“Hmm.. kalau saya sih sahabat dekat tidak usah terlalu banyak , 10 sampai 100 sahabat baik cukup lah. Yang harus banyak sekali itu relasi. Orang yang tau siapa dan apa yang bisa kita lakukan untuk mereka, dan mereka mempercayai kita”

Aha. Ini dia poin pentingnya.

Read More

Summer Romance di Facebook Page!

Written by Fikri Rasyid on July 23, 2009 filed under Music, Promotional Post and tagged with , , , ,

We named it "Summer Romance"

We named it "Summer Romance"

Saya telah menulis ketertarikan saya mengenai menulis lagu disini. Hobi saya akan hal tersebut saya tindak lanjuti dengan mengajak beberapa kawan saya bermain musik dalam sebuah band. It’s nice. Dan setelah kurang lebih dua bulan kita nge-jam bareng, kemarin kami menyepakati sebuah nama untuk band kami:

Summer Romance.

Read More

Promotional Post: Buat Sepatu Boots Sendiri (Bisa Juga Buat Berdasarkan Design Sendiri) di Bandung

Written by Fikri Rasyid on June 5, 2009 filed under Promotional Post and tagged with

Singkat jelas dan padat saja untuk kali ini. Seorang teman saya senang membuat sepatu bootsnya sendiri. Mempertimbangkan bahwa mungkin ada satu-atau dua orang dari anda juga bisa jadi ingin membuat sepatu boots anda sendiri, anda mungkin bisa kontak teman saya yang satu ini. Berikut beberapa contoh sepatu boots-nya:

Contoh-contoh bootsnya Teh Ute

Contoh-contoh bootsnya Teh Ute

Contoh-contoh boots

Contoh-contoh boots

contoh-contoh boots

contoh-contoh boots

Well, nice right? ;)

Bisa juga membuat boots berdasarkan desain sepatu yang gambarnya anda temukan di internet. Bebas lah :)

Jika anda berminat, bisa hubungi teman saya, Teh Ute di nomor esia-nya: 022-92463084. Ohya, dia mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia Jurusan Bahasa Inggris juga, sama seperti saya. Harga per boots-nya antara Rp 150,000 hingga Rp 200,000 keatasan lah, tergantung desain. Jika anda berminat, bisa hubungi Teh Ute langsung. Jika anda ingin lebih lancar lagi negosiasinya, katakan saja anda dapat informasinya dari Blog Fikri, teman Teh Ute di jurusan bahasa Inggris UPI.

Yap, semoga bermanfaat untuk anda! :)

UPDATE (13 Oktober 2011):

Teh Ute sudah tidak lagi melanjutkan usaha boots-nya, jadi apa yang diinformasikan melalui tulisan ini sudah tidak lagi berlaku.