Posts categorized into Analisa :

Menjadi Kaya. Haruskah?

Written by Fikri Rasyid on April 23, 2008 filed under Analisa, Bisnis, Pengembangan Diri and tagged with ,

Siapa yang ingin menjadi kaya?

Pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan yang sangat – sangat menarik sekali. Saya teringat akan salah satu materi yang saya dapatkan saat mengikuti training Mr. Tung Desem Waringin di JITEC kemarin. Berdasarkan materi yang saya dapatkan saat itu ternyata semua orang pasti ingin menjadi kaya, kecuali tiga jenis orang :

1. Orang Suci.

orang yang sudah lepas dari kenikmatan duniawi. Orang yang sudah tercukupkan dengan pemuasan spiritualnya saja.

2. Orang yang Gila.

orang yang sudah tidak memikirkan apa – apa.

3. Orang yang salah program.

Orang yang memiliki keyakinan yang salah tentang uang.

Sebenarnya menurut saya tidak ada yang salah dengan orang yang tidak memiliki keinginan untuk menjadi kaya. Namun menurut saya, kita perlu bertindak lebih objektif : Uang memang bukan segalanya, Namun kita hidup dalam dunia yang segalanya membutuhkan uang.

Makan butuh uang.
Membiayai pendidikan butuh uang.
Menikah pun butuh uang.
Sehat butuh uang.
Membangun tempat ibadah pun butuh uang.
Beribadah – Naik Haji pun butuh uang.
Hampir segala hal yang penting di dunia modern ini di pengaruhi oleh uang. Beberapa orang mungkin tidak setuju dengan pendapat saya ini. contoh lah : ” Loh, kata siapa segalanya membutuhkan uang? Cinta kan tidak membutuhkan uang?”

Anda betul. Bersyukurlah kita bahwa Cinta, Perasan mencintai, atau Perasaan dicintai tidak membutuhkan uang. Tapi aplikasi dari cinta, perasaan mencintai, atau perasaan dicintai-nya sendiri membutuhkan uang. Katakanlah anda adalah seorang pria yang jatuh cinta kepada seorang wanita. Anda sangat mencintainya sehingga Anda hendak meminang wanita tersebut untuk menjadi istri anda. Pertanyaannya, apakah untuk meminang wanita tersebut, – dikarenakan perasan mencintai anda – tidak membutuhkan uang? Butuh. Pernikahan membutuhkan biaya. Minimal untuk Mahar dan Walimah.

Anda butuh uang untuk mengaplikasikan perasaan cinta anda tersebut.

Hampir segala hal yang penting di dunia modern ini di pengaruhi oleh uang.

Memang tidak semua hal di dunia ini membutuhkan uang. bersyukurlah kita bahwa kita tidak dikenakan biaya setiap tarikan dan hembusan nafas kita. Tapi apakah hidup kita cukup dengan bernafas? Tidak.

Tanyakan hal ini kepada mayoritas penduduk indonesia yang berada dibawah garis kemiskinan. Apakah hidup mereka cukup dengan bernafas saja?

saya yakin jawaban mereka tidak.

Itulah mengapa saat saya mampir di salah satu blog, dan membaca salah satu postingan di blog tersebut yang berpandangan bahwa “Bahkan burung pun diberi makan oleh Tuhan, Kenapa harus mencari-cari yang lebih (Kekayaan)?”

Maaf. Saya tidak setuju dengan pendapat anda. Tidak apa kan berbeda pendapat ? ;)

Menurut saya, jauh lebih baik jika sebagai manusia kita memiliki kelebihan. Oke, dalam konteks ini, kekayaan.

Kembali saya teringat oleh cerita yang disampaikan oleh Mr. Tung Desem Waringin dalam salah satu sesi seminarnya yang saya ikuti. beliau mendapatkan cerita ini langsung dari Robert T. Kiyosaki. Pengarang Buku Rich Dad Poor Dad, Cashflow Quadrant, Bussiness School, dan buku – buku lainnya yang banyak mengajarkan tentang konsep kekayaan. Suatu waktu, setelah buku karangan R. T. Kiyosaki ( Saya lupa yang mana) meledak di pasaran, Robert T. Kiyosaki diundang untuk hadir ke salah satu acara populer di dunia, The Oprah Winfrey Show. Di sela-sela acara, saat commercial break, salah seorang penonton bertanya kepada Robert T. Kiyosaki :

( Terjemahan Bebas )

“Robert, untuk apa sih anda menulis dan mengajarkan tentang bagaimana caranya menjadi kaya? Saya sendiri sudah merasa cukup dengan apa yang saya dapat dan merasa tidak perlu untuk menjadi kaya.”

Sebelum Robert T. Kiyosaki menjawab, Oprah menjawab duluan :

( Terjemahan Bebas )

Tutup Mulutmu! Kamu tidak tahu rasanya kalau kamu miskin dan orang tua mu sakit kamu tidak bisa membayar biaya berobat? Kalau kamu miskin kamu tidak bisa menyekolahkan anakmu? Kamu tidak pernah merasakan rasanya menjadi miskin?”

Cerita tepatnya saya tidak hafal, namun kurang lebih maksudnya seperti ini. dan saya tidak terlalu mempedulikan percakapannya, namun maksud dari percakapan itu sendiri :

Kalau anda miskin, anda akan kesulitan saat orang tua anda sakit keras dan anda tidak memiliki dana untuk pengobatan orang tua anda.
Kalau anda miskin, anda akan kesulitan saat anak anda masuk tahun ajaran baru.
Kalau anda miskin, anda akan kesulitan saat harga barang pokok naik.
Kalau anda miskin, perasaan anda akan tercabik – cabik saat anak anda menangis kepada anda karena temannya memiliki sesuatu yang anak anda tidak miliki, dan hal tersebut disebabkan karena anda miskin dan tidak mampu memberikan sesuatu yang anak anda inginkan.

Dan masih banyak kesulitan lain jika anda miskin. Bukannya saya mendewa – dewa kan uang dan menganggap uang dan kekayaan adalah segalanya. tapi cobalah jujur dan jangan munafik. Di dunia yang kita tinggali, orang yang kaya ( dengan cara yang benar tentunya ) memiliki lebih banyak kemudahan dibandingkan dengan orang yang miskin. Dan mendapatkan perlakuan lebih baik dari pada orang miskin.

Betul?

Lalu apa kesimpulannya? Kesimpulannya adalah kembali ke judul dari pertanyaan tadi. “menjadi kaya. Haruskah?” Tidak harus. bukan harus. tapi WAJIB. Tentunya dengan cara yang benar. Dan dengan tetap mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan kepada kita sekarang. Alhamdulillah.

Demikian, semoga bermanfaat dan semoga bermakna untuk anda.

Salam Hangat,
Fikri

P.S. :

Bagaimana menurut Anda? ;)

Teori Broken Window

Written by Fikri Rasyid on April 22, 2008 filed under Analisa, Pengembangan Diri and tagged with , ,

Kemarin lusa, di luar ruangan salah satu sesi pelatihan K-System bertajuk Road To Manager, ( Kompilasi Bussiness Training 1, 2, dan 3), saya mendapat ilmu yan sangat menarik. Aha, inilah yang saya suka dari bisnis MLM. Di saat para leader berkumpul, biasanya ada ilmu pengembangan diri yang keluar dari obrolan mereka. Menarik sekali. dan kemarin, saya mendapat kan ilmu yang menarik tentang Teori Broken Window, dari seorang Diamond Manager Leaders Club yang cukup ternama di Bandung. Beliau mendapatkan ilmu ini dari buku Re-code Your Change DNA, karya Rhenald Kasali.

Hal yang saya tabgkap dari teori broken window ini adalah, sesuatu yang besar, di mulai dari hal-hal kecil yang biasanya kita anggap sepele. Jika ada berjejer jendela dan salah satu jendelanya pecah, hal tersebut akan memacu orang untuk memecahkan jendela – jendela lain. Jika di suatu tempat ada seseorang yang membuang satu sampah bungkus permen, hal ini akan memicu orang untuk ikut membuang sampah bungkus permen lainnya, dan lama kelamaan, akan bertambah dari sampah bungkus permen, sampah botol plastik, sampah bungkus makanan, sampah puntung rokok, hingga sampah sampah lainnya dan menyebabkan tempat tadi tidak indah lagi. Hal tersebut juga berlaku dengan pribadi kita, sering kali kita begitu ingin berubah ke arah yang lebih baik, namun ada sesuatu hal kecil yang kita anggap sepele, yang tidak selaras dengan tujuan dari perubahan kita, maka perubahan yang kita wujudkan tidak terwujud. :) saya tersenyum tersindir saat mendapatkan konsep ini. Betul juga ya? :)

lakukan perubahan dimulai dari hal kecil yang kita angap sepele, dan hal kecil tersebut akan memacu perubahan – perubahan lain yang lebih besar.

Konsep ini mencerahkan sekali untuk saya. Bagaimana dengan Anda?

Untuk infomasi lebih lanjut tentang teori ini, silahkan anda googling. Atau agar lebih afdol, langsung saja beli buku Re-code Your Change DNA, karya Rhenald Kasali. ( ahaha, jadi promosi. :P )

Semoga bermanfaat,
Salam saya,
Fikri.

Apakah usaha MLM syubhat dan tidak adil?

Written by Fikri Rasyid on April 9, 2008 filed under Analisa, Bisnis, Islam, K-Link and tagged with , ,

Saya tergerak untuk membuat postingan ini karena sebuah comment. terima kasih untuk Rekan Bassa atas commentnya.
:)

Bassa

Assalamu’alaikum,

Pada awalnya memang kita bersemangat untuk mencari downline dan merasa bahwa kita telah bekerja keras dan memang teraa puas sekali jika mendapatkan downline seakan akan keuntungan yang kita peroleh adalah dari hasil keringat sendiri, ini memang saya akui benar tetapi coba tengok secara jujur bahkan dalam hati anda yang paling jujur, adakah anda punya pikiran seperti ini “suatu saat nanti disaat saya sudah tua atau sudah malas untuk bekerja di kantor atau malas untuk bekerja di pt dll, saya masih dapat menerima uang setiap hari meskipun hanya duduk dan nonton tv dirumah dan nggak perlu takut untuk nganggur”
Nah jika ada pemikiran seperti ini, anda mesti berhati-hati akan bahaya syubhat.
Adakah anda punya ide2 agar cara menjalankan MLM aman darri syubhat?

Wassalamu’alaikum,
bassa

Oke, mari kita analisis baik baik.

Pertama, masalah syubhat :

“Syubhat secara bahasa mempunyai makna perkara yang samar-samar atau kabur. Ia digunakan ketika ada sesuatu yang sebenarnya haram dianggap halal, ketika ada kebenaran dianggap sebagai kebatilan. Dr. Ahmad Farid dalam Tazkiyatun Nufus menyebutkan bahwa syubhat adalah kesimpulan yang salah yang diakibatkan oleh keracunan hati dan kesalahan cara berfikir.”

sumber : http://colours.of.life.peperonity.com/go/sites/mview/colours.of.life/14088025

sepertinya yang dimaksudkan oleh rekan Bassa disini adalah usaha MLM tergolong ke dalam jenis usaha yang syubhat. Saya tidak menolak ataupun setuju terhadap opini ini. mengapa? karena sepemahaman saya tidak semua bisnis MLM halal. maknanya, ada bisnis MLM yang halal, ada pula yang tidak halal.

adapun kualifikasi MLM halal adalah seperti berikut :

Pendapat Ust. Zaharuddin

1. Produk MLM ini mestilah dibeli dengan tujuan yang sebenarnya
2. Produknya bukan emas dan perak yang boleh dijual beli secara tangguh
3. Komisyen yang diberikan kepada ahli untuk setiap penjual dan ahli bawahannya mestilah jelas. Tiada komisyen tanpa usaha, ini bermakna orang atas hanya berhak mendapat komisyen dari ahli bawahan yang dibantunya sahaja.
4. Keuntungan dan komisyen bukan berdasarkan ‘kepala’ atau ahli yang ditaja,
5. Tidak diwajibkan bagi si ahli menjual jumlah tertentu bagi memperolehi komsiyen dari orang bawahannya.
6. Setiap ‘upline’ atau orang di sebelah atas mestilah menaruh usaha atas jualan orang bawahannya,
7. Tidak menggunakan skim piramid iaitu skim siapa masuk dulu akan untung selamanya.
8. Mempersembahkan system komisyen dan bonus yang telus dan boleh difahami
9. Menstruktur plan pemasaran di antara ahli dan orang bawahannya secara musyarakah

* Materi ini saya dapat dari upline saya yang juga seorang pembicara produk di K-Link. Beliau mendapatkan materi ini dari Dr. Zaid, seorang dosen dengan hukum islam dari Universitas Malaysia Antarabangsa saat beliau mengisi acara product talk saat pembukaan HQ K-Link di Malaysia.

Dari materi diatas dapat kita pahami bahwa MLM pun ada yang halal ada yang haram ada pula yang syubhat. Sama saja seperti perdagangan konvensional. perdagangan konvensional pun ada yang halal ada yang haram pula bukan? sebagai contoh, taruhlah kita berdagang. berdagang merupakan kegiatan yang halal, tetapi apabila yang diperdagangkan adalah merupakan barang yang haram, kita ambil contoh berdagang ganja, maka hukum berdagangnya pun sudah pasti haram. Jadi untuk masalah apakah MLM itu syubhat, haram ataupun tidak, silahkan di analisis terlebih dahulu. apakah Usaha MLM tersebut memenuhi kualifikasi hukum syariat atau tidak. Sepemahaman saya, bisnis MLM K-Link yang saya jalani memenuhi kualifikasi di atas. :)

Kedua, ‘adakah anda punya pikiran seperti ini “suatu saat nanti disaat saya sudah tua atau sudah malas untuk bekerja di kantor atau malas untuk bekerja di pt dll, saya masih dapat menerima uang setiap hari meskipun hanya duduk dan nonton tv dirumah dan nggak perlu takut untuk nganggur”’

Hmm.. yang saya simpulkan dari comment diatas adalah : Tidak adil jika tidak bekerja, tetapi uang masuk ke kantung dengan derasnya.

mari kita analisis lagi : untuk sampai ke taraf “ongkang – ongkang kaki pun duit masuk” ini tidak mudah. Di K-link, perlu membangun sistem yang kokoh terlebih dahulu untuk mencapai taraf seperti yang rekan Bassa maksud. dan membangun sistem tersebut diperlukan kerja keras dan waktu di awal pembangunan sistem + jaringan. sama ada seperti ilustrasi berikut ini :
seseorang, katakanlah A, sedang membangun sebuah perusahaan. A membutuhkan 10 tahun untuk membangun sistem kerja perusahaannya, dan memastikan semuanya dapat berjalan lancar dan stabil. setelah 10 tahun membangun perusahaannya, A memutuskan untuk pensiun dari perusahaannya. akhirnya A pun pensiun. A menyerahkan posisi direktur perusahaan kepada B, orang kepercayaannya. A pensiun dengan memegang 35 % saham dari perusahaan yang dibangunnya. Setiap tahun, A mendapatkan sejumlah uang dari deviden 35 % saham perusahaan yang dipegangnya. Tanpa perlu bekerja, A mendapatkan uang mengalir masuk ke rekeningnya, meskipun A hanya duduk dan menonton TV di rumah.



pertanyaan saya adalah, adilkah? :)

yang kami lakukan di K-Link pun kurang lebih sama :

Join –> Distribusikan produk –> Sponsoring ( rekrut ) –> Membimbing Downline + Menginstall Sistemnya –> Penghasilan

Setelah sistem di jaringan berjalan dengan baik –> Tidak bekerja pun uang tetap mengalir ( Pensiun )

Perlu pahami baik – baik bahwa membimbing, menginstall sistem dan memastikan sistem berjalan lancar bukanlah sebuah pekerjaan yang ‘bisa dilakukan dengan tidak serius’.

:)

Adakah yang salah dengan sistem ini?

Silahkan memberikan opini anda.

Salam Hangat,
Fikri

Bagaimana bisnis MLM bekerja

Written by Fikri Rasyid on April 3, 2008 filed under Analisa, Bisnis, K-Link and tagged with ,

Apa yang terbayang dalam pikiran anda saat mendengar kata “MLM” atau Multi Level Marketing?

Seringkali yang terbayang dalam pikiran orang kebanyakan adalah “rekrut orang sebanyak – banyaknya” atau “jualan produk sebanyak – banyaknya dan jadilah salesman” atau yang lebih parah “bisnis tipu – tipu” dan masih banyak lagi imej negative yang melekat pada “MLM”. Hal itu sebenarnya bisa sangat di maklumi, karena dari ratusan perusahaan MLM yang berdiri di Indonesia, yang legal dan tergabung kedalam Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia(APLI) hingga tulisan ini di tampilkan hanya sejumlah 55 perusahaan. Persentase perusahaan yang tidak resmi dan tentunya menwarkan peluang bisnis yang tidak baik lebih banyak, jadi saya rasa wajar saja jika imej MLM menjadi begitu negative.

Oke, saya tidak akan berlarut – larut membicarakan perusahaan yang baik dan tidak baik. Tapi yang ingin saya sharing-kan sepemahaman saya pada tulisan kali ini sebenarnya bukan “Apa yang terbayang dalam pikiran anda saat mendengar kata MLM atau Multi Level Marketing?”, akan tetapi “bagaimana sebenarnya konsep MLM bekerja?”

Alright then, happy reading. :)

Saat seseorang, -katakanlah bernama A- bergabung dengan sebuah perusahaan MLM, proses seperti apa yang terjadi? Statusnya sebagai apa dalam perusahaan MLM tersebut? Oke, inilah yang terjadi saat A bergabung kedalam sebuah perusahaan MLM :

status.jpg

Saat A join kedalam perusahaan MLM, status-nya adalah sebagai mitra perusahaan MLM. Bukan sebagai pegawai perusahaan MLM tersebut. Analogi yang tepat untuk mengilustrasikan hubungan ini adalah seperti sebuah konter pulsa. Konter pulsa bukanlah pegawai perusahaan penyedia jasa seluler, tetapi mitra perusahaan penyedia jasa seluler tersebut. Hubungan kemitraan ini jelas atas dasar prinsip win – win solution dan menciptakan suatu hubungan hak dan kewajiban antara perusahaan dan mitranya. Perusahaan bertanggung jawab menyediakan produk yang berkualitas untuk didistribusikan. Mitranya bertugas mendistribusikan produk perusahaan. Dari produk yang didistribusikan tersebut, mitra akan mendapatkan keuntungan dari selisih harga yang didapat dari pendistribusian produk tersebut. Penggambaran skemanya kurang lebih seperti ini :

hubungan.jpg
Dalam situasi ini, perusahaan mendapatkan profit dari produk yang terdistribusikan. A pun mendapatkan profit dari produk yang didistribusikan, yaitu selisih antara harga beli distributor dan harga jual ke konsumen. Kedua belah pihak sama – sama untung. Namun, A selaku individu past memiliki keterbatasan dalam jumlah produk yang terjual. Artinya, potensi penghasilan A terbatas.

Maka dari itulah, A membentuk grup atau jaringan distribusi dengan cara mensponsori orang lain.
sponsoring.jpg

Nah, skema ini lah yang biasanya memunculkan reaksi – reaksi anti MLM seperti “Wah, kalau begitu nanti ngga adil, B, C, dan D kerja keras sedangkan A tidak bekerja apa – apa” atau “wah, skema pyramid dong ini. Hanya menguntungkan yang diatas saja.” Dan berbagai reaksi – reaksi anti MLM lainnya.

Saya rasa hal yang mendasari hal ini adalah anggapan bahwa mensponsori adalah hal yang sangat mudah dan tidak membutuhkan keahlian dan pengetahuan apa – apa, sehingga akan sangat mudah oleh A mensponsori 3 orang dan lalu 3 orang ini masing – masing mensponsori 3 sehingga ada 9 orang di level 2 dan yang 9 orang ini masing – masing mensponsori 3, dan seterusnya.

Oke, mari kita analisis. Kita ambil sampel B. ketika B disponsori oleh A, apakah B sudah mengerti cara menjalankan bisnisnya? apakah B sudah mampu mensponsori orang? Apakah B Sudah mengerti hal – hal teknis mengenai produk yang didistribusikan? Sudah mengerti cara mendistribusikan produk? Sudah mengerti hal – hal teknis tentang mengembangkan jaringan? Dari sini kita pahami bahwa ketika B bergabung di jaringan A dan menjadi mitra perusahaan, B sama sekali belum paham apa – apa. Kewajiban A – lah membimbing B agar menguasai teknik – teknik mengembangkan jaringan sehingga B dapat menciptakan omset. Skema yang terjadi adalah :

skema-mlm-lengkap.jpg

Orang – orang yang A sponsori dan A bimbing masing – masing akan menciptakan omset jaringan. Omset jaringan adalah omset yang tercipta karena A berhasil membimbing orang – orang yang berada di jaringannya. Saya rasa merupakan sesuatu yang adil jika A mendapatkan hasil karena A “membimbing” atau dengan kata lain mempintarkan jaringannya. Dan perlu diingat bahwa membimbing manusia membutuhkan waktu dan keahlian. Membimbing manusia bukanlah suatu pekerjaan yang mudah dan tidak membutuhkan keahlian bukan? ;)

Omset jaringan yang tercipta ini akan masuk ke dalam marketing plan, sebuah sistem pembagian hasil – dihitung dengan seksama dan akan dibagikan kepada masing – masing distributor dalam jaringan yang memenuhi kualifikasi untuk mendapatkan bonus. Bonus akan dibagikan secara proporsional dan sesuai dengan hak masing masing distributor dan sesuai dengan prestasi kerjanya. Marketing Plan yang baik dapat mengenali distributor yang bekerja lebih keras dan lebih cerdas. Sehingga di perusahaan MLM yang baik, bukan hal yang tidak mungkin jika B dapat memiliki penghasilan lebih tinggi dari A. Sehingga di perusahaan yang baik, anggapan bahwa bisnis MLM hanya menguntungkan yang diatas tidak lah benar.

Sepemahaman saya dan yang sudah saya alami, skema inilah yang sebenarnya terjadi di perusahaan MLM yang resmi. Bagaimana pendapat Anda? :)