Bukankah Tujuan Apa Yang Semua Kita Lakukan Adalah Ketenangan?

Written by Fikri Rasyid on April 1, 2009 filed under Analisa, Pengembangan Diri and tagged with , ,

Begin with an end in mind
Mulai dengan tujuan akhir di kepala

Stephen R. Covey
The First Habit From The Seven Habit Of Highly Effective People

 Where peaceful waters flow… by Vol-au-Vent

Where peaceful waters flow… by Vol-au-Vent

Kejelasan akan tujuan merupakan hal yang membedakan orang yang akan sampai dengan orang yang tidak akan pernah sampai. Bukankah semua buku, rekaman, atau seminar bertema pengembangan diri selalu membahas satu kualitas kehidupan bernama kejelasan visi / tujuan.

Sekarang, jika berbicara mengani tujuan dalam konteks yang sangat luas: Sebenarnya tujuan dari semua yang kita lakukan apa sih? Karena sifat dasar semua manusia adalah sama, mengejar nikmat menghindari sengsara, saya rasa begitupun juga dengan berbagai hal dasar seperti tujuan hidup, hasrat, dan kebutuhan manusia. Pada dasarnya manusia memiliki pola dasar. Dan kalau saya renungkan, tujuan dasar kita melakukan semua hal dalam kehidupan kita adalah sederhana:

Ketenangan. Kedamaian.

Bukankah mereka yang berupaya mendatangkan rezeki dengan kerasnya melakukan hal tersebut agar mereka tenang karena kemampuan finansial mereka mencukupi?

Bukankah para orang tua yang mengorbankan segalanya demi pendidikan anaknya adalah bertujuan membuat kehidupan anaknya lebih baik sehingga mereka tenang nanti?

Bukankah Mother Theresa menjadi sedemikian pengasihnya karena hal tersebut membawa ketenangan dalam hidupnya?

Bukankah alasan berbagai kenakalan remaja adalah agar mereka di terima oleh teman-temannya – Sesuatu yang menjadi ketenangan bagi mereka?

Dalam contoh ekstrimnya, bukankah seorang individu yang khilaf melakukan kejahatan adalah bertujuan memenuhi kebutuhannya yang sifatnya memenuhi ketenangan sementara mereka?

Dan seterusnya, dan seterusnya. Coba sebutkan seorang individu dengan tindakan mereka lakukan. Jika kita runut – runut terus, bukankah akarnya sederhana: Untuk ketenangan hati mereka.

Yang membedakannya hanyalah kenyataan bahwa setiap orang memiliki definisi tersendiri mengenai ketenangan.

Pendapat anda?

About The Author

Fikri Rasyid - I speak HTML + CSS + jQuery, breath in world wide WordPress-land and currently pursuing my bachelor degree majoring English Education at Indonesia University of Education. Google my name for more information about me.

Subscribe Through Email - Powered by Feedburner

Ketikkan alamat email kamu dan tekan tombol subscribe. Kapanpun saya mempublikasikan tulisan disini, tulisan tersebut akan terkirim ke alamat email kamu.

4 Responses for This Thought

  1. achmad sulfikar

    13 April 2009

    assalamu alaikum….
    mungkin ketenangan dibutuhkan oleh semua orang, tetapi kadangkala “ketidaktenangan” itu sendiri dibutuhkan untuk memacu adrenalin – baik yang disengaja atau tidak disengaja – agar kita selalu siap menerima kondisi yang tidak kita inginkan, agar kita dapat selalu menkonfirmasi diri kita apakah kita masih seorang manusia atau bukan manusia lagi.
    salam kenal kang..

  2. Fikri Rasyid

    22 April 2009

    @Achmad Sulfikar

    Yap. Memang ketenangan yang menjadi tujuan semua orang. Namun ketidaktenangan datang dengan manfatnya sendiri. Itulah kecanggihan Tuhan: Berbagai hal yang bertolak belakang namun saling melengkapi sesuai dengan takarannya masing-masing :)

    Salam Kenal juga Kang Achmad :D

  3. erlita fitrie

    25 April 2009

    Well……..Hati hanya akan menjadi tenang dengan mengingat Yang MAHA MEMPUNYAI DAN MEMEGANG HATI…Pemenuhan semua kebutuhan hidup tidak akan mencapai ketenangan yang essensial..karena semua itu terkadang hanya dorongan nafs…ketenagan hati dan jiwa hanya dicapai dengan jalan kebaikan dan beribadah…karena tidak diciptakan jin dan manusia semata2 HANYA UNTUK IBADAH…….

    • Fikri Rasyid

      27 April 2009

      @Erlita Fitrie

      Ibadah itu salah satu tujuannya membuat hati kita menjadi tenang karena mengingat-Nya kan? ;)

The comment is closed

Untuk mencegah spamming dan komentar yang tidak relevan, area komentar untuk tulisan yang dipublikasikan lebih dari 30 hari saya tutup. Jika ada yang ingin kamu sampaikan berkenaan dengan tulisan ini, silahkan sampaikan melalui twitter atau facebook.