Apa yang terbayang dalam pikiran anda saat mendengar kata “MLM” atau Multi Level Marketing?

Seringkali yang terbayang dalam pikiran orang kebanyakan adalah “rekrut orang sebanyak – banyaknya” atau “jualan produk sebanyak – banyaknya dan jadilah salesman” atau yang lebih parah “bisnis tipu – tipu” dan masih banyak lagi imej negative yang melekat pada “MLM”. Hal itu sebenarnya bisa sangat di maklumi, karena dari ratusan perusahaan MLM yang berdiri di Indonesia, yang legal dan tergabung kedalam Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia(APLI) hingga tulisan ini di tampilkan hanya sejumlah 55 perusahaan. Persentase perusahaan yang tidak resmi dan tentunya menwarkan peluang bisnis yang tidak baik lebih banyak, jadi saya rasa wajar saja jika imej MLM menjadi begitu negative.

Oke, saya tidak akan berlarut – larut membicarakan perusahaan yang baik dan tidak baik. Tapi yang ingin saya sharing-kan sepemahaman saya pada tulisan kali ini sebenarnya bukan “Apa yang terbayang dalam pikiran anda saat mendengar kata MLM atau Multi Level Marketing?”, akan tetapi “bagaimana sebenarnya konsep MLM bekerja?”

Alright then, happy reading. :)

Saat seseorang, -katakanlah bernama A- bergabung dengan sebuah perusahaan MLM, proses seperti apa yang terjadi? Statusnya sebagai apa dalam perusahaan MLM tersebut? Oke, inilah yang terjadi saat A bergabung kedalam sebuah perusahaan MLM :

status.jpg

Saat A join kedalam perusahaan MLM, status-nya adalah sebagai mitra perusahaan MLM. Bukan sebagai pegawai perusahaan MLM tersebut. Analogi yang tepat untuk mengilustrasikan hubungan ini adalah seperti sebuah konter pulsa. Konter pulsa bukanlah pegawai perusahaan penyedia jasa seluler, tetapi mitra perusahaan penyedia jasa seluler tersebut. Hubungan kemitraan ini jelas atas dasar prinsip win – win solution dan menciptakan suatu hubungan hak dan kewajiban antara perusahaan dan mitranya. Perusahaan bertanggung jawab menyediakan produk yang berkualitas untuk didistribusikan. Mitranya bertugas mendistribusikan produk perusahaan. Dari produk yang didistribusikan tersebut, mitra akan mendapatkan keuntungan dari selisih harga yang didapat dari pendistribusian produk tersebut. Penggambaran skemanya kurang lebih seperti ini :

hubungan.jpg
Dalam situasi ini, perusahaan mendapatkan profit dari produk yang terdistribusikan. A pun mendapatkan profit dari produk yang didistribusikan, yaitu selisih antara harga beli distributor dan harga jual ke konsumen. Kedua belah pihak sama – sama untung. Namun, A selaku individu past memiliki keterbatasan dalam jumlah produk yang terjual. Artinya, potensi penghasilan A terbatas.

Maka dari itulah, A membentuk grup atau jaringan distribusi dengan cara mensponsori orang lain.
sponsoring.jpg

Nah, skema ini lah yang biasanya memunculkan reaksi - reaksi anti MLM seperti “Wah, kalau begitu nanti ngga adil,  B, C, dan D kerja keras sedangkan A tidak bekerja apa – apa” atau “wah, skema pyramid dong ini. Hanya menguntungkan yang diatas saja.” Dan berbagai reaksi – reaksi anti MLM lainnya.

Saya rasa hal yang mendasari hal ini adalah anggapan bahwa mensponsori adalah hal yang sangat mudah dan tidak membutuhkan keahlian dan pengetahuan apa – apa, sehingga akan sangat mudah oleh A mensponsori 3 orang dan lalu 3 orang ini masing – masing mensponsori 3 sehingga ada 9 orang di level 2 dan yang 9 orang ini masing – masing mensponsori 3, dan seterusnya.

Oke, mari kita analisis. Kita ambil sampel B. ketika B disponsori oleh A, apakah B sudah mengerti cara menjalankan bisnisnya? apakah B sudah mampu mensponsori orang? Apakah B Sudah mengerti hal – hal teknis mengenai produk yang didistribusikan? Sudah mengerti cara mendistribusikan produk? Sudah mengerti hal – hal teknis tentang mengembangkan jaringan? Dari sini kita pahami bahwa ketika B bergabung di jaringan A dan menjadi mitra perusahaan, B sama sekali belum paham apa – apa. Kewajiban A – lah membimbing B agar menguasai teknik – teknik mengembangkan jaringan sehingga B dapat menciptakan omset. Skema yang terjadi adalah :

skema-mlm-lengkap.jpg

Orang – orang yang A sponsori dan A bimbing masing – masing akan menciptakan omset jaringan. Omset jaringan adalah omset yang tercipta karena A berhasil membimbing orang – orang yang berada di jaringannya. Saya rasa merupakan sesuatu yang adil jika A mendapatkan hasil karena A “membimbing” atau dengan kata lain mempintarkan jaringannya. Dan perlu diingat bahwa membimbing manusia membutuhkan waktu dan keahlian. Membimbing manusia bukanlah suatu pekerjaan yang mudah dan tidak membutuhkan keahlian bukan? ;)

Omset jaringan yang tercipta ini akan masuk ke dalam marketing plan, sebuah sistem pembagian hasil – dihitung dengan seksama dan akan dibagikan kepada masing – masing distributor dalam jaringan yang memenuhi kualifikasi untuk mendapatkan bonus. Bonus akan dibagikan secara proporsional dan sesuai dengan hak masing masing distributor dan sesuai dengan prestasi kerjanya. Marketing Plan yang baik dapat mengenali distributor yang bekerja lebih keras dan lebih cerdas. Sehingga di perusahaan MLM yang baik, bukan hal yang tidak mungkin jika B dapat memiliki penghasilan lebih tinggi dari A. Sehingga di perusahaan yang baik, anggapan bahwa bisnis MLM hanya menguntungkan yang diatas tidak lah benar.

Sepemahaman saya dan yang sudah saya alami, skema inilah yang sebenarnya terjadi di perusahaan MLM yang resmi. Bagaimana pendapat Anda? :)

Post yang berhubungan :

35 Responses to “Bagaimana bisnis MLM bekerja”

  1. Bassa Says :

    Assalamu’alaikum,

    Pada awalnya memang kita bersemangat untuk mencari downline dan merasa bahwa kita telah bekerja keras dan memang teraa puas sekali jika mendapatkan downline seakan akan keuntungan yang kita peroleh adalah dari hasil keringat sendiri, ini memang saya akui benar tetapi coba tengok secara jujur bahkan dalam hati anda yang paling jujur, adakah anda punya pikiran seperti ini “suatu saat nanti disaat saya sudah tua atau sudah malas untuk bekerja di kantor atau malas untuk bekerja di pt dll, saya masih dapat menerima uang setiap hari meskipun hanya duduk dan nonton tv dirumah dan nggak perlu takut untuk nganggur”
    Nah jika ada pemikiran seperti ini, anda mesti berhati-hati akan bahaya syubhat.
    Adakah anda punya ide2 agar cara menjalankan MLM aman darri syubhat?

    Wassalamu’alaikum,
    bassa

  2. f Says :

    @ Bassa

    Salam Hangat Mas Bassa. wah, komentarnya sangat tajam dan menarik. Agar lebih dahsyat, jawaban atas pertanyaan ini akan saya buat dalam format artikel. :)

  3. Priyadi Says :

    MLM yang baik itu gak boleh negative-sum game atau zero-sum game. harus positive-sum. satu2nya supaya itu terjadi adalah jika penjualan retail ke masyarakat non distributor secara kolektif bisa menutupi biaya dan usaha yang dikeluarkan sebagai konsekuensi mengikuti MLM.

    kalau niat ikut MLM, sebaiknya tanyakan dulu ke perusahaan tersebut berapa penghasilan rata2 dari anggota yang telah ikut sebelumnya yang berasal dari penjualan retail, dan bukan dari penjualan ke sesama distributor. dari situ tentukan sendiri apakah jumlah tersebut mencukupi untuk menjalankan usaha tersebut dan apakah profit margin yang didapatkan cukup memadai. yang penting di sini adalah angka tersebut harus dari penjualan retail bukan dari penjualan ke sesama distributor, alasannya, penjualan ke sesama distributor cuma memindahkan uang dan barang ke sesama distributor tanpa ada nilai tambah, sumnya nol.

    kalau perusahaan tidak bersedia memberikan data tersebut, artinya mereka tidak punya itikad baik, dan kemungkinan cuma mengincar uang di kantong anda tanpa perlu memberikan nilai tambah yang sepadan kepada anda.

    kalau memang negative-sum, artinya keuntungan seorang anggota dapat dipastikan berasal dari kerugian anggota yang lain, sama saja dengan judi. keberadaan barang yang dijual cuma berfungsi sebagai kendaraan untuk memindahkan uang dari ‘bawah’ ke ‘atas’ tanpa nilai tambah yang sepadan.

  4. f Says :

    @ Priyadi

    Waw. terima kasih sekali untuk masukannya Mas Pri. Yang sudah saya pelajari, K-Link ( MLM yang sedang saya kerjakan ) sudah memenuhi kualifikasi yang Mas Pri utarakan. Di K-link tidak ada bonus rekrutmen. sehingga setiap distributor akan terdorong untuk membina downlinenya agar mampu menciptakan omset dengan cara mendisrtibusikan produk ke konsumen ( non distributor ).

    dari informasi yang saya dapat, saat ini dari 550 ribu member K-link di indonesia, 25 ribu member sudah terangkat dari garis kemiskinan ( berpenghasilan diatas UMR ), 200 orang berpenghasilan diatas 10 juta rupiah, dan 12 orang berpenghasilan diatas 100 juta.

    Bagaimana Mas Pri, adakah hal lain yang harus diperhatikan lebih lanjut?

  5. f Says :

    @ Bassa

    respon atas comment anda sudah saya post. Silahkan di baca. :)

  6. asmila Says :

    oh,,,,thanks banget mas fikri,,,,btw ini cewek or cowok sih yang namanya fikri,,,aku mengucapkan sekali lagi makasih banyak ya ,,,cz tumben lo ada yang balas,,,,mas sorry ya tlt blz,, tapi kali ni aku ga komentar masalah kasus amway,,,,,,,,,,thx

  7. f Says :

    @asmila

    Wah, ada juga ya perempuan yang namanya Fikri? Saya laki-laki mbak. :)

    Sama-sama. :)

  8. bimoweb.com Says :

    ikutan nimbrung…
    hmmm……. jendela baru MLM he he

  9. asmie Says :

    sory kirain yang namanya fikri tu cewek,,soalnya ada temenku cewek yang namanya fikri,,h btw anda dari mana ya?? ko suka bangt yang bikin acara yang kayak ini yang berdebat,,tapi bagus bisa menambah wawasan,,bilaperlu masalah kenaikan bbm,,,skarang kan lagi ngeributi masalah bbm,,salam dari asmie

  10. f Says :

    @asmie

    wah ada juga y perempuan namanya fikri? saya dari bandung. Bukannya saya suka berdebat mbak, hanya sharing apa yang saya ketahui saja. :) terima kasih untuk sarannya. jika kesempatannya memungkinkan, akan saya ulas disini.

    Salam dari Fikri

  11. liem Says :

    mas fikri,
    sedikit masukkan dari saya terutama tentang MP MLM.
    Yang sering terjadi adalah setelah anda mampu membangun jaringan ternyata jika tingkat anda sama dengan bawah anda, misal anda level RM dan bawah anda RM, maka anda tidak berhak atas bonus pengembangan, tetapi anda bisa mendapatkan bonus Leadership dengan syarat yg lebih besar lagi ( istilahnya breakaway).

    Hal itu tentunya menguntungkan perusahaan, tetapi memberatkan bagi anda sebagai tenaga marketing mereka.
    Anda harus membangun lagi jaringan baru yg belum mencapai level seperti anda.

    Hal itu bisa diatasi dengan anda banyak melakukan selling pribadi, tetapi apa yg sering dikatakan di presentasi bahwa MLM bisa memberikan pasif income menjadi tanda tanya, ditingkat mana kita bisa mendapatkannya.

    Jika anda sadar konsekwensi tsb, lakukanlah tetapi semua anggota anda harus anda jelaskan juga, sehingga mereka tdk salah jalan dan malahan memanfaatkan anggotanya untuk mengejar bonus leadership dan menjadikan anggota sebagai object omset yg harus dicapai.

    Salam

  12. liem Says :

    sedikit masukan,
    Untuk K-link masih ada break away, ini perlu anda pelajari lebih jauh.
    Saat anda mempunyai level yg sama dgn DL, maka bonus pengembangan tidak diberikan jika anda tidak membangun kaki baru untuk mendapatkan bonus Leadership ( bonus terbesar di MLM ).
    Untuk pencapaian ini bukan hal yg mudah, disinilah distributor mulai disaring dgn target yg makin besar. Maka level inilah mulai terjadi kegagalan2 para MLM, karena kerja keras yg dibangun tiba-tiba harus mulai dari bawah lagi.

    Perlu strategi yg tepat, dan tidak dalam waktu singkat semua orang bisa sukses di sini.
    Silahkan pelajari lebih lanjut, bagaimana pembagian komisi ini di berikan.
    Jika anda bisa melewati ini dan juga memberitahu DL anda akan konsekwensi bisnis ini, anda layak menuai hasilnya.
    Tapi bisnis ini tidak segampang seperti yg sering diterangkan di Presentasi lho.
    Yang lebih mengutamakan Rekrut daripada menjual produk.

    Produk tetap yg menjadi prioritas utama.

    Salam.

  13. f Says :

    @ liem

    Ya, saya sudah mempelajari masalah marketing plan break away ini. InsyaAllah akan saya post disini tentang apa yang telah pelajari dari rekan - rekan saya mengenai marketing plan K-Link

    @ test ( saya moderasi )

    Sebagai pengelola blog ini, kami memiliki hak dan tanggung jawab untuk memastikan konten blog ini terhindar dari apa - apa yang kami anggap tidak perlu seperti spam atau komentar negatif berisi sumpah serapah yang saya rasa tidak membangun. Jika anda tidak setuju atas apa yang kami tulis disini, silahkan sampaikan dengan bahasa yang positif dengan etika dan alasan yang berdasar. Kami sebagai pengelola blog memiliki hak untuk itu bukan? :)

  14. Arip Budiman Says :

    Sebarkan terus semangat wirausaha, salah satunya dengan memahami sebijak mungkin keluar biasaan bisnis MLM. Bentuklah mental bangsa ini dengan semangat mandiri, tidak terjebak di kuadran pegawai. Karena pintu rizki Tuhan YME melimpah ruah di bidang bisnis (”halal”) (9-pintu rizki bisnis) banding 1(pintu pegawai/Negeri/Swasta). Tapidi negeri kita malahan berbondong-bondong di pintu yang 1 itu, memang ANEH dan IRONIS. Kadang disertai SUAP-Menyuap atau UANG PELICIN… Biadab sekali. PANTASS … KRISIS TERUS Bangsa Ini. Ayo bangkit para WIrausahawan Muda … Berjuang untuk kesejahteraan yang lebih elegan.

  15. f Says :

    @ Arip Budiman

    Setuju! :)

  16. Nyong Says :

    Iyakah ???

  17. f Says :

    @Nyong

    iya. begitulah.

  18. bayuhebat Says :

    @f komen kepada priyadi

    kalo saya liat (opini pribadi loh). yang dimaksud oleh priyadi dari positive-sum itu dilihat dari keseluruhan penghasilan dibagi jumlah anggota.

    dari situ bisa kelihatan dibandingkan dengan biaya bergabung apakah lebih besar/ kecil.

    kalo dilihat dari hitung2 f disitu saya lihat negative kenapa
    anggaplah 26 ribu orang diatas UMR (biar yang lainnya masuk). dengan total anggota 550 ribu orang kelihatan donk bahwa yang untung cuman 4,7% atau gak sampe 5 persen dari anggota.

  19. Fikri Rasyid Says :

    @ bayuhebat

    yang saya tangkap dari maksud positive-sum adalah penghasilan yang didapat merupakan hasil dari total pertukaran nilai fungsi yang di distribusikan ke luar jaringan distribusi. Jadi penghasilan yang didapat dari omset jaringan yang distribusikan ke konsumen.

    yang dimaksud negative-sum adalah omset yang dihasilkan merupakan pendistribusian barang ke dalam jaringan distribusi itu sendiri dalam angka yang berlebihan sehingga nilai fungsi barang malah terkesampingkan karena pendistribusian barang hanya untuk menutup jumlah omset minimal.

    Kalau pendistribusian ke dalam jaringan dalam angka yang masuk akal ya wajar, karena banyak sekali orang yang bergabung ke jaringan K-Link hanya untuk mendapatkan potongan harga distributor.

    Kenapa yang untung baru 5%, karena yang mengerjakan bisnis jaringannya ya yang 5% itulah. Jangan lupa, banyak orang yang bergabung hanya sebagai konsumen yang menginginkan potongan harga, dan banyak sekali distributor yang tidak aktif. Dari 550 ribu distributor itu bisa diatas 50% yang tidak aktif. Ingat hukum pareto, 80 - 20. hukum statistik.

    Ngomong - ngomong, salam kenal Mas Bayuhebat. trims sudah mampir :)

  20. bayuhebat Says :

    Owkay masalah positive dan ngative sum saya setuju :D

    Kalau pendistribusian ke dalam jaringan dalam angka yang masuk akal ya wajar, karena banyak sekali orang yang bergabung ke jaringan K-Link hanya untuk mendapatkan potongan harga distributor.

    Pendistribusian yang wajar maksudnya seperti apa?

    iya salam kenal juga, :D

  21. Fikri Rasyid Says :

    maksud saya dengan pendistribusian ke dalam jaringan yang wajar adalah, distributor yang membeli produk untuk penggunaan mereka sendiri, dalam jumlah yang memang perlu adanya dan memang digunakan nilai manfaat produknya.

    :)

  22. liem Says :

    Saya banyak ditawarkan MLM, dan setelah saya pelajari ttg MP, banyak ragam namun mirip, seperti contohnya asuransi, kartu kredit, pulsa HP dimana kalau dihitung secara detail ternyata perbedaan tsb ada yg memberikan paling besar dengan asumsi melakukan hal yg sama dalam arti jumlah org yg dikelola, omset yg ditargetkan.
    Kira-kira menurut anda MLM ini layak di ikuti atau tetap bertahan dgn MLM yg lama?
    Gimana pendapat anda?
    Salam

  23. Fikri Rasyid Says :

    hmm.. sebenarnya variabel memilih MLM ada banyak. Marketing Plan yang baik belum cukup. Yang saya pelajari dari berbagai rekan yang sudah malang melintang di bisnis MLM, setidaknya ada lima hal yang harus diperhatikan :

    1. Produk. Harus repeat order, berkualitas dan unik. Jangan memilih MLM yang produknya komoditi. Maksudnya komoditi disini adalah produk yang sudah banyak orang distribusikan.
    2. Perusahaan. pilih perusaaan yang fokus di MLM saja. kalau anda bergabung di perusahaan yang bisnisnya bermacam - macam, ketika bisnis non-MLM yang jatuh, anda ikut terseret.
    3. promosi. program - program promosi yang memudahkan distributor.
    4. Support System. Beum pernah kita diajarkan cara membangun jaringan bisnis. Kalau tidak tahu cara yang benar, bagaimana mau berhasil?
    5. SDM. Manajemen perusahaan harus orang yang berpengalaman di bidang MLM. karakter MLM dan konvensional berbeda.

  24. anung Says :

    MLM ? sangat menarik bagi saya. cara mengujinya : Bila tanpa seorangpun member dibawahnya, tetap bisa mendapatkan keuntungan dan bahkan berlipat, ini baru boleh dijadikan pertimbangan untuk joint atau tidak.

    Gampang kan ? Salam sukses pemain MLM/anung Cilegon anungrey2008@yahoo.co.id

  25. Fikri Rasyid Says :

    @Anung

    Cara menguji yang menarik. Tapi harap diperhatikan juga satu hal :

    dimana - mana, baik itu bisnis MLM atau konvensional, keuntungan berlipat hanya bisa didapat dengan kerjasama tim.

    di bisnis konvensional, direktur - keryawan. di jaringan MLM, perusahaan - upine - downline.

    harap diperhatikan, di bisnis y. jika anda menawarkan jasa keahlian, itu lain cerita. bukankah semua bisnis besar menggunakan faktor kali yang besar?

    ini post saya yang berkaitan dengan faktor kali. silahkan disimak : http://fikrirasyid.com/bisnis/apakah-mlm-hanya-menguntungkan-yang-diatas/

    sederhana kan? salam sukses juga dari saya di bandung.

    :)

  26. bayuhebat Says :

    @ F

    di bisnis konvensional, direktur - keryawan. di jaringan MLM, perusahaan - upine - downline.

    mohon maaf saya gak setuju. karena MLM itu bisnis dan yang anda sebutkan direktur- karyawan adalah pegawai bukan pemilik bisnis.

  27. Fikri Rasyid Says :

    @ bayuhebat

    mohon maaf, saya lupa me notice. analogi itu untuk menggambarkan kerja sama tim. bukan hubungan gambaran bisnis.

    maksudnya, untuk mendapatkan keuntungan berlipat seperti yang diutarakan Mas Anung diatas, perlu kerjasama tim.

    kalau di MLM kerjasamanya antara perusahaan - upline - downline

    kalau di konvensional kerjasamanya antara manajemen - karyawan.

    maksud saya disini, menekankan bahwa di BISNIS, tidak ada keuntungan berlipat yang dikerjakan sendiri.

    semuanya kerja sama, semuanya faktor kali.

    kecuali anda menawarkan keahlian spesifik bernilai tambah sangat tinggi. itu lain cerita.

    Tidak setuju juga tidak apa - apa kok. bagus malah. :)

  28. liem Says :

    Mana yg lebih bagus, persh.MLM yang memproduksi sendiri produknya atau yg hanya sebagai Trader.

    Kalau support system sebagai pertimbangan, bukankah hal tsb bisa di pelajari dari yg sudah ada misal N21 atau yg lain, tetapi MP kita gunakan MLM yg jauh lebih menguntungkan bagi hasilnya.Kalau produk tetap harus menjadi prioritas.

    Saya hanya mengamati, bahwa pemain MLM ternyata tidak ada yg benar-benar baru, tetapi mereka berpindah dari MLM satu ke MLM yg lain, jadi secara kuantitas pertambahan anggota masih lambat.Jadi peluangnya tetap besar utk usaha ini.

    Bgm pendapat anda?

  29. Fikri Rasyid Says :

    @ liem

    masing2 ada kelebihan dan resikonya.

    Namun kalau di pertimbangkan, yang trader saja pasti akan lebih fokus dan lebih safe.

    Support System dan MP sama2 penting. kalau Support System tidak bagus, jaringan pasti tidak berkembang. kenapa? karena tidak ada yang membina jaringan untuk berkembang. Itu alasan pemain MLM berpindah. karena jaringannya tidak berkembang. kenapa tidak berkembang? karena tidak ada yang membina? kenapa tidak ada yang membina? karena Support Systemnya tidak bagus.

    bukankah begitu?

    ;)

  30. AviCenna Says :

    LOha tman stia gw!!

    Smangat ENterpreneur Muda!!
    Bgus juga ya usaha anda…
    sbagai teman seperjuangan saya mendukung usaha anda…
    Smangat..
    (n jgn lpa doain gw jga ye… biar gw bsa ngembangin usaha Bokap… He… Ada lowongan lho… anda tertarik?)
    ;P_Nu

  31. Fikri Rasyid Says :

    @ aviCenna

    Oke deh, temen seperjuangan! kita ramaikan indonesia! :D

    kapan ke bandung lagi?

    siap deh, didoain. mengembangkan dan membangun memiliki tantangannya masing2. :)

    lowongan? hmm.. thanks deh. lebih senang kerja sama. sejajar. hehe. but anyway, lowongannya apaan? siapa tau ada temen yang bisa di rekomendasiin. :D

  32. Naufal Ari Nugraha Says :

    bagaiman cara mudah agar orang lain percaya dengan mlm?
    apakah ada mlm yang benar-benar bagus untuk di jadikan anggota???

    cepat jawabyachhhh, penting nichhh!!!!!!!!!!!

  33. Fikri Rasyid Says :

    @ Naufal Ari Nugraha

    cara mudah? ada. jelaskanlah dengan cara yang baik. sebelum menjelaskan, anda arus sudah memahami hal yang anda jelaskan.

    ada. k-link inilah. :)

  34. liem Says :

    Yang saya dengar dari leader MLM, persh trader harganya jauh lebih tinggi dan sering bermasalah dgn stock & delivery produknya.
    Apakah seperti itu?

    Dan yg jadi kendala, biasanya Produsen produk mensupply ke beberapa persh MLM ( saudara saya produsen )
    Bisa membuat kemasan tergantung maunya Persh MLM tsb.
    Jadi kualitas produk saya rasa kurang bisa dipertanggungjawabkan.

    Saya dengar produsen yg mensupply K-Link membuat MLM sendiri, nah lho… jadi gimana donk?
    Harga pasti akan lebih murah kan?

    Mohon saran..

  35. Fikri Rasyid Says :

    @ liem

    itu kembali lagi ke perusahaannya. Kalau perusahaannya di bina oleh tim manajemen yang solid dan paham dengan bisnis mlm, saya rasa hal seperti itu tidak akan terjadi.

    Satu dua kali hambatan dan masalah sih pasti ada. Namanya juga bisnis, pasti ada masalah. Selama tidak menjadi kebiasaan, saya rasa no problem.

    Produsen yang dulu mensupply produk ke k-link memang membuat perusahaan MLM sendiri. tetapi bicara harga, hampir sama tuh. mereka jual harga distributor produk ‘ijo - ijo’ kalau tidak salah seharga 115ribu. K-Link 117ribu.

    Sekalipun supplier membuat perusahaan sendiri, perlu di camkan baik baik : karakter manajemen bisnis MLM dan konvensional berbeda. produk yang sama, ditangani oeh manajemen yang berbeda pengalamannya hasilnya berbeda. bukankah begitu? ;)

Leave a Reply