Lima Tahun Kedepan (Edisi 2012)

Minggu kemarin saya menghadiri resepsi pernikahan teman SMP / SMA saya. Hal pertama yang saya pikirkan begitu memasuki ruangan resepsi adalah…
Resepsi pernikahan seperti ini butuh biaya berapa ya?
The Unspoken, Written Thoughts

Minggu kemarin saya menghadiri resepsi pernikahan teman SMP / SMA saya. Hal pertama yang saya pikirkan begitu memasuki ruangan resepsi adalah…
Resepsi pernikahan seperti ini butuh biaya berapa ya?

Beberapa bulan yang lalu, setiap jalan turun melalui daerah Cihampelas, mata saya sering tertuju ke tumpukan mobil travel berwarna merah yang terlihat menarik dan nyaman di mata saya. Saya tidak tahu mengapa saya senang sekali melihat jajaran travel tersebut. Entah dikarenakan saya yang memang menyenangi warna merah, atau mungkin karena warna merah secara scientific terbukti meningkatkan rasa lapar atau apalah saya tidak tahu. Ketika itu saya tidak punya urusan apapun yang akan membuat saya menggunakan travel yang bersangkutan, wong kerjaan saja semua bisa diselesaikan di Bandung kok. Tapi keinginan untuk menjajal travel tersebut tetap menghuni secuil ruang di daftar keinginan saya.

Ada dua hal yang muncul di kepala saya saat menyengajakan diri ‘jalan-jalan’ ke beberapa blog lokal bergenre personal blog:
Simplicity is the ultimate sophistication
-Leonardo da Vinci

Ada satu ekspresi yang sering membuat saya heran: ekspresi “beliin dooong”.
Mana yang akan kamu pilih dari dua opsi ini: uang sepuluh juta, atau kemampuan untuk mendatangkan uang sepuluh juta? Uang sepuluh juta dibelikan MacBook Air satu biji juga habis. Kemampuan untuk mendatangkan uang sepuluh juta bisa mendatangkan uang sepuluh juta berkali-kali selama kemampuannya digunakan dengan cara dan di kesempatan yang tepat.
Satu kalimat yang saya selalu ingat dari seseorang yang terkenal dengan kemampuannya memotivasi orang dengan cara ‘yang keras’:
Yang mahal itu bukan biaya hidup, tapi biaya gaya hidup.
Jangan banyak alasan deh.
Merasa beruntung karena dipecut-pecut mamah secara verbal untuk bisa segera mandiri sesegera mungkin.

Di twitter cukup banyak yang nyiyir “masih zaman, resolusi-resolusian? Emangnya resolusi tahun lalu tercapai?“. Tapi saya pribadi masih berpegang pada prinsip “harus ada tujuannya“. Kalau tujuannya ada, jalannya bisa dicari: persis seperti mencari alamat So here’s the stuffs, yang saya ingin capai di 2012:

Jika semuanya berjalan lancar, tahun ini merupakan tahun terakhir saya menempuh pendidikan sarjana. Beres semester ini, tinggal PLP dan merampungkan skripsi, lalu bertogalah saya.
*amin*
Seperti yang sudah saya duga, ibu yang notabene seorang dosen sudah mulai bertanya: “mau lanjut S2 apa, A?”
Pernah memainkan game yang terlalu mudah dengan gameplay-nya begitu-begitu saja? Saya pernah. Beberapa pekan lalu saya men-download game Iron Man 2 untuk iPad: karena sangat mudah dan gameplay-nya begitu begitu saja, saya jadi malas sekali memainkannya. Membosankan. Ujung-ujungnya saya uninstall deh. Tidak mengasyikkan untuk dimainkan. Poin ‘menantang’-nya hilang.
Hampir setiap dari kita, termasuk saya, pernah stress. Pernah protes. Ini cobaan hidup kok berat sekali ya.
Tiba-tiba jadi kepikiran: pernah menjalani hidup yang ‘terlalu mudah’ dan kegiatan yang begitu-begitu saja?
Think about it. Challenge makes us feel alive.
Tadi sore tidak sengaja membaca twit-nya teman:
Pernah mengalami hal serupa? Saya sih jadi ingat dulu kakak saya pernah kehilangan progress skripsi-nya yang sudah setengah jalan karena hardisk-nya mendadak tidak bisa terbaca. Belajar dari kejadian tersebut, saya selalu menekankan pentingnya backup. Salah satu cara saya mengakali backup ini adalah dengan mengoptimalkan penggunaan dropbox:
Kurang lebih seperti itu. Terkadang skenario diatas tidak berjalan sempurna namun yang penting kamu sudah melakukan usaha untuk menjaga agar berkas tugas kamu selalu ‘ada’.
Semoga bermanfaat.
saya pernah menulis mengenai optimasi internet untuk pengajar & pelajar sebelumnya. Coba dibaca, siapa tahu berguna juga.