Digital Interactive Wedding

Dua minggu lalu saya menjadi pager bagus di acara nikahan kakaknya teman baik saya. Weirdly enough, ada beberapa hal yang saya lihat tidak efisien dan saya malah terbayangkan hal-hal ini:
The Unspoken, Written Thoughts

Dua minggu lalu saya menjadi pager bagus di acara nikahan kakaknya teman baik saya. Weirdly enough, ada beberapa hal yang saya lihat tidak efisien dan saya malah terbayangkan hal-hal ini:
Saya sering membayangkan bagaimana dulu manusia mulai berkelompok dan membentuk masyarakat. Mungkin diawali dengan menyadari ketidakmampuan manusia untuk hidup ‘benar-benar sendiri terlepas dari manusia lainnya‘. Mereka yang punya gen pemimpin mulai mengorganisir masyarakat. Mereka yang memilih untuk menjadi ‘rakyat jelata’ bernaung di bawah kepemimpinan yang mereka pilih atau bernaung di bawah kepemimpinan yang ada disekeliling mereka.
Awalnya masyarakat dan organisasi kepemimpinan ini memiliki skala wilayah yang kecil seukuran pedesaan. Lalu lama-kelamaan, sebagaimana sifat bawaan manusia yang tidak pernah puas, organisasi ini membesar: entah bergabung atau mungkin mencaplok organisasi kepemimpinan desa sebelah (entah berjuruskan negosiasi atau aksi militer), melebar lagi ke desa sebelahnya lagi, dan desa yang sebelahnya lagi demikian seterusnya. Proses penggabungan wilayah kekuasaan ini bisa terus membesar hingga sebesar skala yang di tahun 2012 ini kita sebut sebagai negara.
***
I’m an optimist, I am. Namun berbicara mengenai masa mendatang selalu membuat saya tertegun lama. Beberapa tahun silam saya pernah baca di suatu buku, buku-nya Robert Kiyosaki jika tida salah, bahwa dalam jangka hidup manusia normal (sekitar 60 tahun-an) Manusia akan mengalami setidaknya satu resesi dan satu depresi.
Saya (pada saat menulis ini dan membaca buku tersebut) tidak terlalu memahami istilah ekonomi. Namun saya memiliki interpretasi tersendiri terhadap kalimat tersebut: Nothing stays forever. Bagaimanapun kita berusaha, dalam jangka waktu hidup manusia, manusia akan diuji dengan sejumlah ujian yang skalanya besar:
Pernah kamu iri melihat mereka, anak-anak yang terlahir dari keluarga kaya yang ketika ingin ini itu tinggal minta? Saya dulu sering merasakan hal tersebut, sampai saya menyadari bahwa dalam banyak hal, yang membuat cerita menarik itu sering kali proses pencapainnya, bukan malah pencapaian itu sendiri.
It’s time to say goodbye: saya menjual iPad 2 yang saya beli September 2011 lalu. Alasannya? Untuk saat ini saya membutuhkan device dengan layar yang lebih kecil dan device tersebut akhirnya dirilis di Indonesia. Untuk saat ini memiliki dua iOS device tidak akan efisien untuk saya.
Jadi, saya mencari calon pembeli untuk iPad 2 saya. Spesifikasinya: iPad 2 3G Black 16 GB. iPad 2 ini saya tawarkan seharga 5,5juta rupiah. Kondisinya masih sangat baik, belum pernah saya jailbreak dan terinstall OS versi terbaru (5.0.1). Segala macam perlengkapan masih ada, garansi seharusnya masih ada 7 bulan lagi. Kuitansi pembelian masih ada (Saya beli di EMAX BIP september 2011 lalu).
Lokasi saya di Bandung, dan saya memprioritaskan pembeli di Bandung. Metode pembelian yang saya pilih Cash On Delivery (boleh transfer). Tidak menerima kredit, harus full payment langsung ;)
Jika kamu serius berminat untuk membeli, silahkan kontak saya melalui twitter @fikrirasyid atau email saya di fikrirasyid [at] gmail [dot] com dan kita bisa segera bertemu untuk bertransaksi (note: iPad 2-nya tentu akan saya reset setting & content-nya terlebih dahulu ke kondisi awal). Saya tunggu kabarnya :)
De, semoga kamu berpindah ke tangan yang baik yah *ngomong sama tablet* *puk puk iPad*
***

Media Massa Surat Kabar Pikiran Rakyat
Manusia di abad ke-20 hingga awal abad-21 mengenal sebuah konsep bernama media massa: televisi, radio, koran, majalah, you name it. Media massa bersifat one-to-many dimana satu entitas, umumnya korporasi media atau pemerintah mengingat biaya operasional media massa yang tinggi, mengkomunikasikan “pesan” (bentuk akhir dari pesan ini merupakan berita, acara TV, laporan investigasi, sinetron, dll namun selalu ada “gagasan” dibalik bentuk akhir tersebut) kepada sejumlah BESAR masyarakat.
Sebelum kamu tertawa atau mengajukan pertanyaan, saya akan klarifikasi:
Dan itulah yang kami alami di awal abad-21 ini, spesifiknya di Indonesia: satu stasiun tv ditunggangi partai politik, beberapa stasiun tv lain ditunggangi korporasi yang terus menerus mewartakan berita buruk (AFAIK, prinsipnya kan bad news is an interesting news), stasiun tv yang lain terus memainkan sinetron naga terbang dan sinetron drama tidak masuk akal yang tidak jelas. Bagi masyarakat kelas bawah yang hanya mampu mengakses TV, itu semua yang mereka tahu. Lupakan radio, bentuk visual tentu jauh lebih menarik. Lupakan surat kabar, kami pada waktu itu bukan merupakan bangsa yang gemar membaca. Sial bagi kami, kami melewat era membaca setelah era buta huruf karena era multimedia terlanjur dimulai.
Seorang alim ulama yang sangat terkenal yang akhirnya bercerai setelah berumah tangga lebih dari sepuluh tahun dan dikaruniai tujuh orang anak.
Sebuah negara Eropa tempat gagasan demokrasi dilahirkan yang terancam bangkrut jika tidak ditolong Uni Eropa.
Saya lebih pro kepada ‘memiliki skill untuk memecahkan masalah yang dibutuhkan banyak pihak daripada mengabdi sepenuhnya kepada satu institusi‘. Hal ini menyebabkan saya tidak terlalu paham mengapa ada yang sangat bela-belain jadi PNS (bukan maksud saya menggeneralisir namun dalam beberapa kasus, ‘bela-belain’ ini bisa sampai ke level menyuap hingga berjuta-juta rupiah).
Jika argumennya “Jadi PNS kan pasti. Sudah pasti dapat penghasilan, dapat pensiun pula. Kalau menjadi pegawai swasta kan belum tentu“, maka yang ada dipikiran saya:
***

Gigitaran di ujung genteng, liburan akhir 2011. Ketika melamun seperti ini, banyak hal yang terpikirkan
Beberapa minggu yang lalu saya menyetir PP Bandung – Cilegon bersama keluarga untuk menghadiri pernikahan sepupu disana. Perjalanan ini memakan waktu lebih dari 5 jam menggunakan mobil pribadi. Sepanjang perjalanan, berulangkali satu pertanyaan sederhana muncul di pikiran saya:
Pretty much all i want to say this morning.
Note: Bukan berarti saya gimanaa begitu sama orang tua yah. I just wanna be my own self.