Lesson Learned

Lesson Learned About Google Analytics’ Universal Tracking

Don’t use Google Analytics’ Universal Tracking code yet unless you are okay (per May 23rd, 2013) having your in-Page Analytics fails to fetch data and shows no result.

When you create new Google Analytics’ account for your site, you’ll have an option to choose one between these tracking methods: Universal Analytics or Classic Analytics. However, you need to realize that (per May 23rd 2013) the Universal Analytics’ tracking method has a beta label on it.

Google-Analytics'-Universal-or-Classic-Tracking

Some days ago I created couple of new Google Analytics accounts and selected Universal Analytics as their tracking method. Today, me and my colleagues found that the Google Analytics accounts which used Universal Analytics could not fetched data and showed in-Page Analytics result. The ridiculous part is there’s no option to revert the tracking method from Universal to Classic analytics. We ended up creating new analytics accounts, installed it, and remove the old ones.

Lesson learned.

Standard
Web

Front-End Web Development (n)

An act to make browser shows intended result using HTML, CSS, Javascript, and other related technologies.

Fikri Rasyid – May 23rd, 2013

I don’t know why but this sentence just popped in my head when i was having a breakfast at warteg before went to the office this morning.

***

Updated at May 23rd, 2013 – Hat tip to AMYunus for reminding me that the scope of this definition is actually limited to the “web development” only.

“Front End Web Development” In a Sentence

Quote
zikri, nzi and fikri - filtered
Uncategorized

Nzi + Fikri = Zikri?

Last weekend I had some fun combining close-up photos of mine and my girlfriend’s using Face Fusion app. If we are destined to be together, having a son (which I hope to), and “our future son1” looks like this, it’ll be hilarious for the future me to look back and see this app-generated-picture :))

***

Footnote:

I don’t know what the future brings, hence I italicized this phrase. But there’s nothing wrong with having an aspiration, right?

Standard
Kosan D'Balcony Belum Diisi
Life

Nyari Kosan di Sekitar BINUS Syahdan

Mengantisipasi perpindahan status dari freelancer kontrakan jadi karyawan full-time BINUS di divisi Digital-Media Development pada awal Mei 2013 kemarin, gue sudah mulai nyari kosan di sekitar BINUS Syahdan sejak April 2013 silam. Di sela-sela waktu meeting mingguan di bulan April, gue mencoba jalan kiri-kanan ngeliat-liat kosan. Ada beberapa hal (yang gue temukan) yang gue pikir akan berguna untuk siapapun yang di masa depan berniat untuk nyari kosan di sekitaran BINUS Syahdan. Maka dari itu, gue nulis post ini.

Budget

Pertanyaan dasar banget. Berdasarkan lumayan banyak kosan yang sempat gue datangi, IMO sementara ini kosan sekitaran BINUS Syahdan bisa dibagi ke dalam tiga kategori:

  1. Di bawah 1jt-an
    Kamar mandi luar, non-AC
  2. 1jt – 2jtan
    Kamar mandi dalam, AC, Laundry, Internet
  3. Di atas 2jtan
    Semua yang dimiliki kosan yang diantara 1jt – 2jt an, plus lokasi yang amat sangat deket dengan kampus ATAU kamar yang relatif lega

Fasilitas

Setiap orang punya kebutuhan berbeda-beda, tapi gue pribadi memiliki kebutuhan-kebutuhan ini:

  1. Laundry
    Jika ada waktu luang, gue pikir lebih efisien untuk dipakai ngulik, istirahat, atau nyari tambahan project.
  2. AC
    Gue dari Bandung. Meskipun pernah di Indramayu selama 6 tahun, panasnya Jakarta ini ampun-ampunan deh.
  3. Internet
    Kalo ada kebutuhan untuk mengerjakan sesuatu di luar kantor, masa harus nyari free wi-fi dulu supaya bisa internetan? Internet mah wajib ada.
  4. Kamar mandi dalem
    IMO lebih tenang pake kamar mandi dalem sih. Gue kalo boker suka terlalu selo :))
  5. Jendela
    Once in a while, gue butuh matiin AC dan membiarkan udara bersirkulasi secara alami. Selain itu, sinar matahari perlu masuk juga tiap pagi.
  6. Ada tempat untuk parkir mobil
    Gue ngga bawa mobil, cuman kalo ada keluarga dateng bisa dalam rangka nengok atau nginep bawa mobil dan susah parkir (atau bisa parkir tapi ngga aman), it’ll be frustrating.

FYI, poin satu sampai empat itu gampang banget dicari. Poin keenam biasanya bisa didapat KALAU punya budget yang lebih. Yang susah itu poin ke lima: di sekitaran BINUS ini banyak banget kosan. BANYAK BANGET. Yang susah itu mencari kamar kosan yang ada jendelanya. Sepengamatan gue, kebanyakan kosan di sekitar BINUS Syahdan yang modelnya model gedung (satu gedung terdiri dari beberapa lantai yang satu lantainya bisa sepuluhan kamar lebih) dan sangat/terlalu mengandalkan AC. Banyak banget kamar yang ngga punya jendela yang mana buat gue mengagetkan banget. Sekalinya ada kamar yang punya jendela, jendelanya ngga bisa dibuka :| Kalo lu beruntung, lu bisa dapet kamar kosan yang ada jendelanya dan bisa dibuka.

Browsing (Internet FTW)

Setelah berkali-kali jalan dan ngecek langsung, gue masih belum nemu tempat yang sreg banget dengan kebutuhan gue. Akhirnya gue baru keinget, kenapa ngga googling aja *facepalm.jpg*. Setelah gue coba browsing-browsing, ternyata ngga terlalu banyak website yang bisa dijadikan referensi untuk kosan di sekitar BINUS. Buat gue, hal ini memunculkan pertanyaan juga: apakah ngga banyak orang yang nyari informasi mengenai kosan di sekitar BINUS melalui internet sehingga ngga banyak informasi yang searchable tentang topik ini?

Balik lagi ke topik nyari kosan, setelah googling-googling, gue nemu informasi mengenai beberapa kosan dari kostjakarta.com. Begitu ada waktu luang sehari, gue coba mendatangi dan mengecek kosan-kosan tersebut.

Memilih D’Balcony

Setelah keliling-keliling nyari kosan yang mana melelahkan banget ini, gue akhirnya memutuskan untuk ngekos di D’Balcony. Alasannya:

  1. SETIAP KAMAR ADA JENDELA-NYA DAN BISA DIBUKA. Banyak pula kamar yang punya balkon kecil dan harga sewa-nya cuman selisih 100rb. Ini deal-breaker banget: jendela buat gue vital banget dan ngga banyak kosan sekitar BINUS Syahdan yang model begini.
  2. Luas kamar sekitar 3 X 4 meter termasuk kamar mandi. Ngga gede-gede banget sih, tapi cukup lah.
  3. Sudah termasuk AC.
  4. Sudah termasuk kamar mandi dalam, sudah termasuk kasur, meja, kursi dan lemari.
  5. Kamar mandi dalamnya lumayan lega. Menggunakan toilet duduk dan shower.
  6. Ada tempat parkir. Kalo lu bawa mobil, ada biaya tambahan sih. Ini bermakna: tempat parkirnya udah reserved. Berita baiknya, tempat parkir itu bisa dipake kalo beberapa jam doang mah. Kalo mau parkir semaleman karena nginep, bisa ikut di apartemen D’loft yang mana semacem parent company-nya D’Balcony.
  7. Satpam dan pengelola kosannya enak.
  8. Setiap hari, free laundry empat potong pakaian.
  9. Sudah termasuk listrik 100 Kwh. Selanjutnya, biaya sendiri.
  10. Di setiap lantai ada tempat cuci piring. Di lantai dua ada kompor.
  11. Kamarnya lumayan kedap suara. Kalo kamar sebelah nyetel musik kenceng-kenceng atau alarm handphone-nya nyala di dini hari, ngga bakal ngeganggu banget. Well pengecualian kalo ngedengerin musiknya pake sub-woofer dan bass-nya berdentum. Bakalan kerasa kalo gitu sih -_-” *udah kejadian*
  12. Pintu dan pager dikunci secara otomatis. Bukanya pake kartu gitu: deketin kartu ke receiver, lalu automatically unlocked.
  13. Ada satpam, dan di lorong kosan ada CCTV.
  14. Letaknya di jalan U, cuman dua belokan dari BINUS Syahdan. Ngga lebih dari 500 meter dari tempat kerja XD
  15. Sebulan cuma 1,5jt doang. Untuk pertama masuk, depositnya senilai biaya kosan dan bisa cair setelah tiga bulan.

Dibandingkan dengan opsi fasilitas/budget kosan lain di sekitar BINUS, ini kombinasi paling oke yang bisa gue temukan. Atau lu tau ada lagi yang lebih oke?

Berikut ini beberapa foto D’Balcony yang gue ambil via iPhone:

Beberapa alternatif

Dalam pencarian gue, gue menemukan beberapa alternatif yang sebenernya cukup oke cuman secara budget / lokasi / fasilitas gue pikir ngga seoke D’Balcony:

  1. Grand Residence Kemanggisan: 1,9jt perbulan – secara fasilitas, semua yang dimiliki D’Balcony dia punya dan dengan kualitas yang lebih oke – cenderung mewah malah. Minusnya: lokasinya lumayan jauh dari Syahdan, biaya kosan belum termasuk listrik (100rb per 100 Kwh, sekitar 100rb per minggu lah), maksimal teman / keluarga menginap 4 kali dalam sebulan – selebihnya charge 100 ribu per malam. IMO, masalah jatah nginep ini buat gue lumayan annoying, berasa bukan tempat tinggal sendiri aja :))
  2. Kosan samping BINUS Anggrek banget: 2.5jt perbulan. Lokasi oke banget, ada parkir, kamar mandi dalem, kamar luas banget. Minusnya: kemahalan buat budget gue. Alokasi gue 1 – 2jt aja buat tempat tinggal :))

PENTING: harga dari kosan-kosan yang gue sebutkan diatas bisa aja berubah. Kalo lu ngegunain informasi yang gue sebutkan ini sebagai referensi, CEK LAGI.

Thoughts?

Well itu aja sih yang terpikir saat ini. Ada yang mau nambahin? :)

Standard
Instalasi Arsitektur di BINUS Syahdan. Sampe sekarang entah apa ini artinya
Life, Politics

Kemungkinan Salah

Ini cuman gue doang, atau lu juga merasakan hal yang sama?

Gue, most of the times.

Berbekal kenyataan bahwa mayoritas media massa (terutama TV) dimiliki oleh figur yang punya kepentingan politis, aktif berpolitik di bawah bendera partai tertentu, dan beberapa kejadian dimana berita di media tertentu yang jelas-jelas A dipelintir jadi B, gue pribadi kalau baca atau nonton berita terutama berita politik merasa kalau berita tersebut memiliki peluang yang besar untuk jadi bias.

Jadi kalo ada berita tentang politik yang datang dari suatu media massa, gue malah selalu kepikiran: bagaimana kalau yang benar itu malah sebaliknya dan berita yang ada sekarang itu pelintiran supaya mendukung kepentingan si pemilik media massa?

Gue pikir hal ini sangat mungkin untuk terjadi.

Lalu, terlepas dari faktor bias buah intervensi si pemilik media massa, gue pribadi cenderung menghindari “kemutlakan” seperti bilang “AH NGGA MUNGKIN, PASTI GINI GINI GINI!” dalam hal-hal yang sifatnya bukan prinsip atau akidah.

Gue cenderung berpikir kalau mustahil gue tahu segalanya. Kemampuan gue memahami sesuatu terbatas oleh kemampuan gue mengindrai hal-hal yang ada. Oleh karena itu, gue cenderung mencoba membuka pintu “kemungkinan”. Saat ini keliatannya X, semua orang berpendapat X, tapi bentar dulu, somehow bisa aja yang sebenernya terjadi itu Z.

Namanya juga manusia. Sebaik-baiknya dan sejujur-jujurnya manusia, pengetahuan dan kemampuan dia terbatas. Terikat faktor emosional pula. Manusia yang baik aja bisa jadi salah, apalagi manusia yang ngga belum baik.

Berlandaskan pemikiran diatas, dalam konteks sehari-hari seorang manusia 20 tahunan yang lumayan melek media sosial, gue jadi suka bertanya-tanya dalam hati mengenai perilaku pengguna twitter yang dengan gampangnya nyinyir berbekal RT-an judul artikel yang entah dibaca isinya apa ngga itu:

Apakah lu dengan mudahnya percaya 100% dengan news outlet / media massa?

Itu baru yang nyinyir berbekal judul artikel media massa, belum yang heboh bermodal share-an foto atau artikel di Facebook yang entah darimana datangnya, entah bagaimana validitasnya, dan entah yang heboh ini kepikiran untuk ngecek validitasnya dulu atau tidak.

dude-seriously

Oh iya, perlu diingat juga: Semua yang gue tulis diatas bisa aja salah.

Wallahualam.

Standard
Deezer Playlist April 2013
Music

Playlist April 2013

Telat setengah bulan buat sekedar ngeposting lagu-lagu apa aja yang nemenin gue selama April kemarin (padahal tinggal paste embed code doang dari Deezer, kebayang ribetnya mulai ngekos, berubah rutinitas, dan ada kerjaan yang harus diberesin), akhirnya gue ada kesempatan juga buat ngepost di sini. So here we go, songs of April 2013:

Pada dasarnya April kemaren ada dua album dari artis yang gue suka yang baru banget dirilis dan kerennya langsung nongol di library Deezer: Paramore’s self titled album dan Save Rock and Roll-nya Fall Out Boy.

Di self titled album-nya Paramore, mereka jadi lebih “colorful” dan kurang “dark“, mungkin karena formasi baru minus si Farro Brothers ya. Beberapa lagunya memang jadi aneh, tapi track2 kaya Daydreaming, Ain’t it Fun, Still Into You, Now, Anklebiters, dan Proof asik-asik banget meskipun ngga sedalem track-track mereka di Brand New Eyes. Favorit gue sih Proof. Catchy abis.

Di Save Rock and Roll, Fall Out Boy yang mana Patrick Stump secara ajaib jadi kurus ini datang dengan formula yang sama. Lirik yang Pete banget dan melodi Stump yang kayanya hanya dia yang bisa nyanyiin lagu-lagunya dengan bener. Banyak banget track mereka yang gue suka: The Pheonix, My Songs Know What You Did in The Dark (Light Em Up), Alone Together, Young Volcanoes, Rat a Tat, dan Save Rock and Roll. Well lebih dari 50% dari isi albumnya asik. Catchy dengan lirik yang seperti udah gue bilang, Fall Out Boy banget (panjang dan aneh tapi catchy). :D

Without further ado (regardless four paragraphs above), silahkan menikmati:

Standard