Posts published on 2009 May

Ada Yang Tahu Bagaimana Strategi Musisi Lokal? 5 Langkah Strategi Musisi Lokal Yang Terpikirkan

Written by Fikri Rasyid on May 12, 2009 filed under Analisa, Bisnis and tagged with , , ,

Musician playing on the streets... by Frencks Photography

Musician playing on the streets... by Frenck's Photography

Hari ini saya sedang belajar tentang kehidupan.

Saya penggemar musik. Khususnya, incubus (ada yang tahu band canggih dengan sound nerd dan lirik jenius ini? They Rock!:D). Saya selalu terpana melihat U.S (Amerika) dengan kemapanan dan kedewasaan pasarnya. Band seperti incubus yang notabene tidak lazim (jika tidak disebut segmented) pun dapat “hidup” degan jelas disana.

Jika dilihat dalam cakupan yang lebih luas, kedewasaan pasar di U.S. benar-benar sangat mengagumkan. Jangankan musisi yang segmented. Pemain skateboard, streetball, breakdancer, atau apapun yang terlihat segmented dapat bertahan dan hidup dengan skala yang wah (standar indonesia) di U.S., jika mereka professional.

Sekarang, melihat masuk kedalam negeri kita tercinta: Jangankan yang bermain di daerah segmented, yang bermain di area mainstream (dalam cakupan ini, musik) saja masih harus ngos-ngosan bertahan.

Coba lihat para musisi lokal. Saya terkadang tidak habis pikir, bagaimana strategi mereka bertahan di indonesia?

Menjual rekaman? Tidak usah menutup mata, kita semua tahu betapa mengguritanya pembajakan di negeri ini. Penjualan mp3 bajakan di depan kantor polisi, link download dari situs-situs share download file, copy-paste musik dari komputer teman, dan berbagai cara untuk mendapatkan file musik tanpa harus membayar lisensi sudah sangat lumrah kita jumpai.

Hmm…kemungkinan besar, kita juga termasuk salah satu diantara pelakunya kan? ;)

Bagaimana pun, menjual copyright adalah salah satu scalable way terefisien dalam menghasilkan pemasukan. Bayangkan J.K Rowling: Dengan hak cipta atas “Harry Potter”, dia menjadi wanita terkaya di Inggris melebihi Queen Elizabeth.

Jika pemanfaatan copyright untuk musisi (dengan cara menjual album) tidak efisien lagi, ini berarti industri musik dan para musisi kita telah kehilangan salah satu sumber pemasukan terbaiknya.

Pertanyaan emasnya: Lalu bagaimana cara mereka bertahan?

Ini pertanyaan yang sangat menarik untuk saya. Terbayang beberapa cara sih, namun setiap cara memiliki nilai plus-minusnya masing-masing:

1. Menjual Ring Back Tone (RBT)

Ring Back Tone di dengung-dengungkan sebagai penyelamat industri musik karena sifatnya yang belum bisa dibajak. Well, langkah yang menarik sih, terlebih dengan sifat “batasan waktu”-nya. Umumnya satu pembelian Ring Back Tone memiliki batas waktu aktif, kan?

2. Melakukan Konser Live

Yap, sering kali kita dengar bahwa musisi lokal kita bertahan dari konser. Namun berapa besar pun bayaran mereka sebagai musisi, -dan sebagaimanapun mereka menyukai bermain musik- , jika di tilik dari aspek bisnis, konser bersifat active, memerlukan keterlibatan, tidak bisa di delegasikan (yang artinya faktor skalabilitas tidak bekerja) dan terbatas waktu.

3. Menjual Merchandise

Menjual merchandise kepada fans loyal terdengar mengasyikkan kan? ;) Jika anda pernah melihat seseorang yang sangat mengidolai satu musisi, anda akan tersadar betapa menariknya menjual merchandise kepada para die-hard fans ini.

Tapi jika dipikir-pikir, berapa banyak sih die hard fans dari satu musisi (die hard fans yang rela melakukan apapun yang diarahkan idolanya)? Apakah cukup untuk di gunakan bertahan?

4. Menjadi Bintang Iklan (Endorsement)

Musisi memiliki pengaruh. Terlebih kepada die hard fans-nya. Memanfaatkan pengaruh mereka untuk memasarkan produk merupakan salah satu langkah jitu kan? ;)

5. Menjual Album

Bagaimanapun, selalu ada pendengar musik yang say no to piracy. Atau penggemar yang tidak sudi membeli bajakan karena faktor “koleksi”. Bad news: banyakkah jumlah orang-orang seperti ini di Indonesia?

Well, pendapat anda? Bagaimana cara musisi lokal kita bertahan?

Hari ini saya belajar lagi tentang kehidupan :)

P.S.

Overall, 5 langkah ini adalah langkah yang terpikirkan oleh saya saja. Saya pribadi belum berkecimpung di bidang musik professional, namun memiliki ketertarikan khusus di industri ini. Ada yang berkecimpung di industri ini? Sharing pengalaman anda sangat bermanfaat untuk kita semua :)

Tentang Masalah: Satu Hal Yang Membuat Kita Tumbuh Dewasa

Written by Fikri Rasyid on May 10, 2009 filed under Pengembangan Diri, Personal and tagged with , , , ,

 .Trouble by SmallRaffaela

.Trouble by SmallRaffaela

Hari ini saya belajar banyak tentang kehidupan.

Saya belajar tentang bagaimana menjadi terbuka kepada orang lain memberikan kedamaian. Tentang keterbukaan yang baik melegakan hati. Tentang kenyataan bahwa hal apapun yang terjadi pada diri kita, kita memiliki hak sepenuhnya untuk memberikan makna kepadanya. Tentang bagaimana do’a benar-benar bekerja. Tentang keajaiban sedekah. Tentang betapa kita harus berhati-hati dalam berkata-kata dan mencetuskan keinginan. Tentang merasakan apa yang orang-orang terdahulu katakan: “Apabila pasir digenggam terlalu keras, dia akan melepaskan dari melalui rongga-rongga jemari mu. Genggamlah ia dengan genggaman yang cukup dan baik.”.

Tentang satu hal sederhana: MASALAH, terkadang memang menjatuhkan kita. Namun sering kali, masalah malah meninggikan posisi kita, jika disikapi dengan tepat. Masalah membuat kita dewasa, membuat kita menjadi lebih baik lagi. Terkadang malah masalah yang menyadarkan kita untuk bersegera menjadi lebih baik.
Read More

Review Teloor: Resep Makanan 2.0

Written by Fikri Rasyid on May 7, 2009 filed under internet, Review and tagged with , ,

recipe book open by ionracas

recipe book open by ionracas

Istilah web 2.0 mungkin sudah tidak asing lagi di telinga anda (Jika masih asing, anda bisa membaca definisi web 2.0 disini). Inti dari web 2.0 adalah kolaborasi, partisipasi, sharing, etc. Jika Flickr adalah photo sharing, YouTube adalah video sharing, Slideshare adalah presentation sharing, sekarang anda perlu cek yang satu ini: Teloor.

Recipe sharing
. ;)

Dan yang membuatnya lebih menarik, situs ini dibuat oleh warga Indonesia yang menetap di U.S! :D

Sebagaimana di berbagai website dengan konsep 2.0 lainnya, di teloor anda bisa melihat resep-resep yang ada, juga menambahkan resep rahasia turun temurun keluarga anda *halah, kata keterangan-nya cuma bercanda* di Teloor.

Secara keseluruhan, Teloor sangat menarik dan useful. Desainnya simple dan navigasinya baik. Penempatan berbagai image-nya pun sangat mengundang selera. Belum lagi fitur “Similiar Recipes” yang menunjukan resep yang “sejenis” dengan resep yang tengah anda lihat. “Recipe Cloud”-nya juga sangat memudahkan untuk mencari resep-resep sejenis. Lalu ada fitur rating dan comment yang memungkinkan anda memberi komentar atas resep yang telah anda uji coba.

Keterangan Cook Time (waktu memasak), Level (tingkat kesulitan resep), Category (kategori makanan), Region (asal makanan), dan Serving Size (to be honest, i don’t know what is this :P ) membuat pengguna dapat mengidentifikasi dengan lebih seksama apakah resep yang mereka lihat cocok untuk dicoba. Fitur “Follower”-nya juga keren. Seperti Twitter saja :D

Namun di luar segala fitur yang sangat useful-nya, rasanya Teloor masih bisa di buat lebih keren lagi deh. Saya menemukan beberapa hal yang mungkin bisa lebih dioptimalkan dari Teloor dan beberapa ide-ide yang muncul saat saya mengunjungi Teloor:

  1. Setuju apa kata Ivan. Teloor sebagai user generated content site harus dapat lebih meningkatkan partisipasi user-nya. Berada di Teloor rasanya sepi sekali. Perasaan pribadi saya, faktanya memang begitu, atau Teloor kurang menunjukkan “keramaian”-nya? Sepertinya sektor promosi Teloor sebaiknya di-push deh. Rasanya kurang ramai!
  2. Untuk meningkatkan user, dan meningkatkan user experience, bagaimana jika berkolaborasi dengan facebook? Instalasi facebook connect, lalu di buat facebook apps yang turut menyebar awareness Teloor melalui facebook misalnya?
  3. Sepertinya jika Teloor membuat widget seperti Flickr Badge bagi usernya, akan menarik tuh :D
  4. Design blog-nya Teloor. Masa dengan segala kecantikan desain Teloor, blognya ditampilkan menggunakan Kubrick sih?

So far, yang terpikirkan oleh saya baru 4 point itu saja. Ada yang mau menambahkan mungkin? Silahkan sampaikan pendapat anda dengan berkomentar :)

Mengapa Netbook Berkembang Dengan Sedemikian Pesat? Mengapa Saya Menginginkan Netbook?

Written by Fikri Rasyid on May 6, 2009 filed under Analisa and tagged with , ,

Acer Aspire One Netbook first impressions by zieak

Acer Aspire One Netbook first impressions by zieak

Netbook: satu kategori dari komputer jinjing (laptop) dengan ukuran lebih mungil dari laptop biasa namun disertai dengan spesifikasi (dan harga) di bawah komputer biasa pula, ditujukan untuk pengguna komputer yang mobile. Istilah Netbook sendiri dipopulerkan oleh ASUS, produsen hardware asal taiwan yang merilis ASUS EEE PC.

Itu tadi definisinya. Sekarang apa yang saya pikirkan mengenai netbook:

Saya rasa semakin hari semakin banyak saja orang yang menggunakan netbook. Pertanyaan emasnya adalah “Mengapa populasi netbook semakin lama semakin banyak saja?”. Pendapat saya mengenai hal ini:

Read More

Social Media Marketing: Definisi, Konsep dan Aplikasnya

Written by Fikri Rasyid on May 2, 2009 filed under Bisnis, internet, Tips and tagged with , , ,

 Social Media Landscape by fredcavazza

Social Media Landscape by fredcavazza

Berdasarkan Wikipedia, Social Media adalah information content created by people using highly accessible and scalable publishing technologies. Saya sendiri memahami social media sebagai realisasi dari konsep web 2.0: Media yang kontennya diciptakan oleh masyarakat umum/user dengan dukungan teknologi (website, atau web application) yang menganut oknsep web 2.0. Bentuk fisik dari social media: blog, microblog, social networking site, photo sharing, video sharing, dll.

Jadi, what makes a social media, social media adalah aspek kontennya yang diciptakan oleh masyarakat umum (sosial): sebuah penggabungan sosiologi dengan fasilitas teknologi. Merubah hubungan komunikasi one-to-many (dari media yang dimilki para pemodal saja) ke many-to-many (dari masyarakat untuk masyarakat).
Read More